Sabtu, 21 Juni 2014

Sekedar Cerita Si Kakak dan Si Adik


Ide-ide mulai menautkanku pada tulisan panjang. Rasanya ia ingin segera kutuangkan sebelum rasa malas kembali melingkupiku. Netbook yang telah menemaniku selama empat tahun belakangan menjadi tempat curahan hati. Memori data D dipenuhi dengan tulisan-tulisanku. Semuanya aku jadikan satu sarang agar kemudian aku tidak bingung mencari kemana mereka semua.  Maklum, banyak di antaranya tidak jelas kapan akan kelar ,sebagian lainnya menunggu komentar dari kawan terpercaya, lalu sebagian lainnya rencana ingin aku kirimkan ke media. Berharap satu di antara sekian yang aku kirimkan bisa terbit.

“Kak ! Air udah mendidih tuh”

Uh, rasanya aku ingin menghilang sejenak meninggalkan rutinitas pekerjaan rumah. Huwa… bagaimana tulisanku bisa selesai.

Ratapku dalam hati, dan selalu demikian. Andai saja aku mampu meminjam alat Doraemon, permintaanku itu bisa saja jadi kenyataan. Aih, tak berhentinya imajinasiku ini. Kenyataan mulai memaki karena aku terlalu larut dengan khayalku yang canggih. Pernah juga satu kali, aku ingin sekali memiliki pintu kemana saja. Mau tahu kenapa? Ini semua gara-gara rasa iri pada seorang teman. Ia mulai mengunggah foto-fotonya di setiap belahan dunia tempat ia memijakkan kaki.

“Oh, China…”

Status terupdatenya saat itu. Dengan memajang foto saat ia menapaki tangga di tembok China yang super legendaris. Lalu berikutnya, Thailand. Foto-fiti saat wara-wiri di sekitaran pasar Thailand sana, menikmati perjalanan di pasar apung Thailand. Sungguh bikin nyesek. Yang paling nyesek, seorang teman telah umroh. Muka mupeng karena pengen. Ya Robb, saya kapan ya ? -_-

Ya, begitulah nasib seorang pecinta travel yang tidak punya banyak rupiah. Hanya bisa mendam rasa dan nunggu tabungan pas buat jalan. Oya, jangan jadikan rasa iri itu membuatmu menjadi berlaku negative sama yang jadi sasaran ke-iri-anmu. Jadikan ia sebagai pendorong buat cita-cita yang masih kamu usahakan. Aku biasanya mikir, masa mereka bisa aku ngga’. Tapi kadang ucapanku itu nangkring di otak saja gara-gara, ya, malas itu tadi. Jadi sebisa mungkin hindari si malas itu ya ,Nak. Dia ngga sungkan membuat kamu nyesal dan hilang kesempatan. Jangan ulangi kesalahan yang sama, Nak.*berasa jadi Emak..hihihi…

Kembali soal tulisan. ^_^

Bisa dibilang saya pecinta seni sejak kecil. Dari SD dapat juara lomba nyanyi dan puisi (Tidak maksud pamer ya pemirsa). Karena kemudian saya memilih hengkang dari dunia tarik suara, karena lebih mengedepankan menjaga aurat (suara) saya. Dan…tada… menulis menjadi kegiatan rutin melepas penat, sakit hati, kesepian, sampai dari bahagia ke bahagia pake banget dan banget.

“Ih, nih kakak, dibilangin juga, tuh air dah mendidih dari tadi. Dimarahin Emak, Didin ngga tanggung jawab loh”
“Iya… iya.. sabar.. orang sabar disayang Alloh adik manis.”
“Bilangin sabar ama airnya tuh kak, dari tadi udah pada demo pengen keluar dari panci gara-gara kepanasan”

Udah dongkol kali adik saya yah, akhirnya dia mengucurkan kata-kata seperti itu. Saya, hanya cengengesan dan berlalu meninggalkannya yang geleng-geleng kepala. Baru kelas 5 sekolah dasar, kelakuannya lebih baik (mungkin) ketimbang saya dan berlagak kayak orang dewasa.  Suatu hari saya nonton tv sama dia.

“Kak, ganti channel dong”
“Ngga ah, lagi seru nih, tuh kan Barbie udah mau ketemu pangeran tuh”
“Dasar tontonan anak perempuan”
“Kamu bilang apa tadi?“
“Kan kakak perempuan, tontonan andalannya Barbie. Nah kalau perempuan dan masih suka Barbie sudah betulkan kalau dibilangin dasar anak perempuan. Soalnya hanya anak perempuan yang suka sama Barbie. Tapi, tunggu, kakak ini masih kategori anak-anak apa bukan ya? Umur setahun lagi dua puluh masalahnya”

Merasa disindir, geser kursi, matiin tv, dan angkat kaki. Benar-benar jengkel tingkat tinggi.

“Ckckck, benar, kakak masih kayak anak-anak, ngambekkan, manyun pula”
Si adik nyalain tv lagi. Pas lagi serunya. Mati lampu.
“Yah, mati lampu. Ah, padahal Tsubasa mau nendang bolanya ke gawang”
Nungguin si listrik nyala, si adik ngitung sampai sepuluh. Hitungan sepuluh lampu sudah menyala lagi.
“Kakak dari mana? “

Waduh, dia ngeliat, padahal ini lagi ngendap-ngendap ke kamar.

“Habis dari teras, tadi. Kenapa?” jawabku agak jutek.
“Maafin Didin, kayaknya gara-gara gangguin kakak tadi, akhirnya Didin juga kena balasan”

Beuh, ternyata dia menyadari.

“Dimaafin, kan, Kak?”
“Mm” jawabku seraya mengangguk.
“Jangan di ulang ya”

Kata-kataku dibalas anggukan oleh si adik. Dalam hati rasa tidak enak mulai menyerang. Benarlah pikiran sebagai kakak yang licik nempel di jidat. Tidak tahu saja adikku kalau aku yang mengerjainya dengan mematikan kilometer lampu (ngga tau nama resminya apa) di teras. Kelakuan…ckckck… jangan di contoh ya… hehehe…


Nyambung lain kali ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amanah yang Kedua

Lama tak menjumpaimu blog. Belakangan aku sibuk dengan tugas utamaku sebagai ibu dua anak. Tugasku kini bertambah, seiring dengan umurk...