Pete-pete menjadi transportasi satu-satunya yang bisa menolong kala Bapak tidak bisa mengantar. Hehehe....Setiap pagi, saya harus masuk kerja tepat waktu, namun tetap harus menunggu sabar sampai ada pete-pete yang lewat. Kadang harus menunggu sampai 10 atau 15 menit, maklum pete-pete yang menjadi angkutan desa memiliki jadwal yang tidak tentu.
Pagi itu seperti biasanya saya menunggu di pinggir jalan, dan sekitar 10 menit, sudah ada pete-pete yang bersedia mengambil penumpang. Suara musik andalan pak Supir menjadi teman di perjalanan 15 menit menuju sekolah tempat bekerja. Biasanya lagu yang diputar adalah lagu dangdut khas , seperti bang Rhoma, atau lagu Bugis-Makassar khas Sulawesi Selatan. Tapi, kali ini, suara bang Ebit G. Ade telah mengalun beriring suara mesin dari pete-pete.
Sampai kemudian di lagu " Titip Rindu Buat Ayah ".
Dimatamu masih tersimpan Selaksa peristiwa
Benturan dan hembasan terpahang dikeningmu
Kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah .... hmmm hmmm ...
Benturan dan hembasan terpahang dikeningmu
Kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah .... hmmm hmmm ...
Meski nafasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin syarat
Kau tetap bertahan
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari
Kini kurus dalam terbungkus hmmm
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia
Ayah dalam hening sepi kurindu
Untuk menuai padi milik kita
Namun kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu banyak menanggung beban ho ho
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari
Kini kurus dalam terbungkus hmmm
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia
Bapak, ya, pikiranku tertuju kepada beliau. Bapak yang selama ini mati-matian menjaga kami keluarganya. Bapak yang kerja banting tulang untuk menyekolahkan kami. Bapak yang selalu menjemput saat tidak ada lagi pete-pete saat saya pulang terlambat dari kampus saat itu. Sekarang , ketika mulai bekerja , saya mulai sedikit merasakan bagaimana kepenatan Bapak di kantor. Keluhan, Bapak tidak pernah mengeluarkan kata-kata keluhan. Ketika sedang capek pun, beliau hanya pergi ke kamar lalu tidur , tanpa harus menyampaikan keluhan-keluhan atas pekerjaannya yang melelahkan.
Pagi saat itu, sesampai di tujuan , lagu itu pun selesai. Hehehe, waktunya pas. Pete-pete pagi ini, mengantarkan kerinduan pada Bapak. Orang tua yang paling berharga di setiap tahap kehidupanku. Membayangkan beliau akan beranjak tua segera, meneteslah air mata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar