Tampilkan postingan dengan label Sepenggal Kisah Lanjutan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepenggal Kisah Lanjutan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 November 2014

Sekedar Celoteh : Kunjungan kalian

Bilamana aku kaitkan satu dengan yang lain
Aku menemukan kata penghubung silaturahmi di sana
Menghabiskan waktu sore di beranda rumah
Seraya kemudian bercerita tentang kisah yang tak usai

Teh suguhan orang rumah mengisi dialog antara  aku dan kalian
Kue cokelat buatanku, apakah rasanya enak kawan?
Maafkan jika masih tak laik di lidah kalian
Maklum aku baru belajar

Senyum, air mata dan kata-kata pembangkit semangat
Terima kasih telah kau bagikan padaku
Sore itu di beranda rumah
Dengan teh yang disandingkan dengan pisang goreng buatan Mama
Rasanya lebih enak rupanya
Aih, aku simpan saja kue cokelat buatanku
Kelak akan aku buat lebih apik dan enak

Rasanya lucu membicarakan perihal hidup kita ke depan
Antara kita telah ada yang menanam bunga bahagia di kepala
Antara kita telah ada yang bijak menata diri dan bagai seorang Bunda bagi yang lain
Pun antara kita telah ada yang belajar sebelum hidupnya digenapkan seorang lelaki
Aih, cerita-cerita ini bahkan tak habis kita pangkas hingga pukul tiga pagi

Tak ada yang mengetahui ajal, hidup dan jodoh pertemuan kita selepas kini
Setidaknya berbagi bahagia, sedih dan beban berat pundakmu bisa kita lakukan hari ini
Pun berbagi makanan dalam piring yang sama beserta lauk sederhana
Tak apa setidaknya ini buatan tangan kita masing-masing
Dengan rasa yang campur aduk

Lalu, perpisahan , ah, kalian tahu aku sulit pisah
Namun , tentu aku harus mengalahkan kerakusan akan waktu kalian bersamaku
Hei, kini hujan mengiringi kepulangan kalian di tempat masing-masing sore ini
Berhati-hatilah, pun jika tertakdir kita akan berjumpa aku takkan sungkan mendengar cerita baru kalian untukku


*Persahabatan didasari cinta Allah, moga tak lekang dan hanya menjadi sekedar kata. Terima kasih doa kalian, pun doaku yang terbaik untuk kalian. Sampai bertemu lagi, Sobat ^_^
Kunjungan Sahabat ... Ya ,.. itu kamu.. ya.. kamu  juga,..eh..eh.. kamu juga .. ( 8 - 9 November 2014)


Rumah , 11 November 2014

Sekedar Celoteh : Kepayahan

Terkadang kepayahan membuat berpikir ulang.
"Haruskah hal ini kau lakukan?"  Sejenak kalimat itulah yang muncul di pikiran
Mendendangkan asaku lewat melodi yang aku tuangkan sekena hati
Mendengar riuh kata orang tentangmu yang bisa jadi tetap misteri
Ah, itu pikiran yang berputar-putar di kepalaku

Tak tega, pun aku berpikir demikian
Usaha dan do'a menjadi pelipur lelah yang kau tempa hari ini
Jejakmu kian jelas, menyelisihi keraguan yang samar menghampiri
Kataku yang tak jelas
Mataku yang tak dapat menangkap sosok
Semoga lelahmu terbayar
Berganti bahagia yang kau cari dan perjuangkan
Apakah bisa jadi itu denganku ?

*berpikir aneh diujung hari kali ini -_-

Kamis, 06 November 2014

Sekedar Celoteh : Dekat


Kau tahu? Sebagai anak perempuan yang disuguhi kisah Cinderella semasa kanak, dimasa mendewasa sebagai seorang gadis, aku ingin mendapatkan pangeran setia yang menerima keadaanku. Memahami, kalau saja hidup tak selamanya berbahagia namun saling membahagiakan.
Kau tahu? Sebagai anak perempuan yang hidup dengan aturan ketat dari orang tua, kelak ketika mendewasa sebagai seorang gadis, aku ingin menemukan pria yang akan membawaku mengenal hal diluaran. Bersamanya, orangtuaku takkan khawatir berlebihan. Bersamanya, aku takkan tertipu arah jalan yang ditunjukkan orang lain. Bersamanya, aku takkan kehilangan, ia menggenggam jemariku erat, membuatku merasa aman dan terjaga. Ia mampu membuatku percaya, cinta tak sekedar manis terucap di lidah tetapi sebuah tindakan dan perencanaan serius dengan mengharap ridho-Nya.

Kau tahu ? Sebagai anak perempuan, aku bukanlah berasal dari garis keturunan bangsawan. Tetapi tahukah kau? Keluarga, adalah kekayaan yang tak ada tandingan. Kau akan tahu rasanya jika kelak ada perpisahan. Bayangan mereka menunggumu di kediaman , gonta-ganti dalam pikiran.

Kau tahu ? sebagai seorang anak sulung perempuan, Ayah adalah orang yang menanggungku, Ibu adalah orang yang mendidikku, saudara-saudariku adalah penyemangatku, aku memiliki tanggung jawab sebagai anak yang berbakti dan membanggakan, juga sebagai saudari yang menjadi contoh dan panutan adik-adik kesayangan.
Kau tahu ? Aku. Seorang anak perempuan sulung di keluargaku, seorang gadis dalam alur mendewasa, orang biasa dalam ranah hidupnya, berusaha memaknai kau.


Kau, dalam rerintik hujan yang membasahi tempatku berdiri. Kau, yang asing, namun sedia berbagi sedikit cerita dalam duniamu, kadang pula diam kau jadikan alasan untuk sesuatu yang mesti aku pahami sendiri. Kau, yang membuatku iri dengan kepandaian mengolah rasa dan logika. Kau, takkan cukup aku memaknaimu, selama jarak itu masih belum terukur dengan kata dekat. Namun, dekat itu sebenarnya terjalin lewat do’a-do’a yang terhatur tulus. 

Senin, 03 November 2014

Sekedar Celoteh : Percaya

Percaya akan menjagamu dalam jarak yang tak dapat aku lampaui

Percaya akan membuatmu kuat dalam perjuangan

Percaya akan tetap merekatkan hubungan meski tak dapat saling menyapa

Percaya, kini aku letakkan ia pada sabar dalam waktu-waktu

Waktu dimana tak ada kata dekat, berhadapan, maupun sapa

Sejak itu, percaya, telah aku sandangkan padamu meski jarak kian bertambah

Percaya, kata kunci saat penyatuan itu terjadi

Percaya, saat masa nanti akhirat kita dikumpulkan lagi.


Seorang teman menceritakan kembali kata-kata yang didapatkannya lewat buku yang pernah ia baca. Ia menyampaikannya padaku seperti ini : Menikah, seperti bentuk penghambaanmu pada suami, untuk itu tempatkanlah kehormatanmu pada ia yang tepat engkau berikan. 
Ya, menurutku jelas, kedua insan yang disatukan adalah orang asing yang dipertemukan dengan takdir Allah. Mereka saling mengenal juga saling melengkapi. Istri yang bersedia mengurus keluarga, juga Suami yang sedia mencari nafkah. 
Ada pula yang mengatakan, pertengkaran yang membuat kalian meyatu kembali adalah lebih baik ketimbang diam yang kemudian memisahkan. Kemarahan bisa jadi tanda sayang, bentuk perhatian, pun juga cemburu yang dimaknai sebagai tanda cinta *ciee... 
Lalu, kemudian ada lagi, percaya, di saat ada banyak keraguan dan rasa was-was. Untuk pelengkap terbaik, tiada yang lain selain do'a. Tidak ada satupun hal yang terjadi selain dari kehendak Sang Maha Pengasih. 

*suasana senja plus langit mendung dan angin sepoi-sepoi mengiringi tulisan ini.. hihihi... lalu kemudian mengalun ~ Teman Hidup oleh Tulus ~ ^_^

Rumah, 3 November 2014 

Hi November !

Bulan baru dan serangkaian mimpi yang aku miliki 

Mungkin agak suram ya, tetapi awal bulan kali ini, satu mimpi yang aku usahakan terwujud mandeg di tengah jalan. Mungkin bukan tengah jalan lagi, tapi udah di penghujung jalan. Hehehe..

Seperti apa yang Bapak dan Ibu utarakan " Jika memang jodoh dengan pekerjaan itu, insya Allah akan dapat juga kok" 

Seperti biasa saya hanya senyum-senyum, dan komat-kamit (berdo'a dan mengamini berkali-kali). Bahkan untuk urusan kerja pun, nyelip kata jodoh di dalamnya ... *istilah sekarang ngenanya tuh di sini (nunjuk hati) 

Hidup memang tidak ada yang bisa menduga. Seperti juga hati manusia. Jadi jalani saja dengan usaha dan do'a, mengharap ridho Allah. Mengharapkan yang tidak "ngeh" dengan perasaanmu mulai paham. Pekerjaan yang kamu idamkan bisa dekat-dekat dengan pencapaianmu. Lalu, catatan impian dalam buku diary bergembok milikmu bisa tercapai satu-satu  *eh... apa ada yang masih punya? hehehe

Katanya hidup jangan serius terus, yang jelas tetap di jalan yang lurus. Istiqomah mengembangkan diri di jalan yang Allah ridhoi. Memperbaiki diri untuk menjadi insan berbudi,  bisa diandalkan keluarga, pasangan, orang-orang sekitaran kita, kalau perlu seluruh dunia *tsaa

November, dengan segala kebaikan-kebaikan yang ditawarkannya, juga kesempatan-kesempatan yang ada dihadapan, Yosh ! Ganbatte kudasai ~     ^_^9


Senin, 13 Oktober 2014

Aku dan FLP

Ada kebahagiaan hari ini
Mengecap kebersamaan dalam satu kesatuan 
Menatap satu-satu wajah cerah dari individu dihadapanku 
Merasakan pula lelah yang tersembunyi di balik senyum yang tetap ada 

Kejadian hari ini takkan terulang 
Namun, kenangan ini takkan hilang kemudian
Ada perasaan yang sulit diungkap dengan kata-kata
Tetapi kau mampu menangkapnya dari rona wajahku

Di sini ada kerinduan yang senantiasa memanggil untuk dijenguk
Di sini kita berbeda namun di tempatkan di satu rumah
Di sini aku menemukan diriku yang lain 
Menemukan motivasiku dan menjaganya bersama

Jika kelak pisah
Jika kelak sulit bersua dengan mereka 
Setidaknya hari ini dan beberapa waktu ke depan 
Aku ingin memiliki suka duka yang dirasa bersama

Benarlah, FLP adalah ramuan bahagia di hidupku yang biasa 
Aku menemukanmu, dia, mereka, kalian dan menemukan-Nya
Amanah baru di rumah tempatku menaruh rindu pada keluarga di dalamnya
Dan lembar itu, mulai terisi hari ini
Bismillah ...
                                                                                      

Pelantikan Pengurus FLP Makasssar oleh Pak Taufiq Ismail di Sekolah Islam Athirah
Makassar, 12 Oktober 2014

Rabu, 01 Oktober 2014

Mimpi

Sebuah langkah besar untukku, aku kemudian melibatkan kamu, kamu, dia dan dia 
Langkah kali ini adalah yang berat, menurutku. 
Aku takut kemudian membuatnya, dia, mereka dan kalian merasa kecewa
Ah, aku pemimpi
Dahulu sampai sekarang, yang aku dapatkan adalah wujud dari mimpi yang kurangkai-rangkai
Meskipun tak semua, namun selalu ada mimpi yang lebih indah yang tak disangka masuk dan mulai bertingkah

Senin, 22 September 2014

Sekedar Celoteh : Suatu Saat

Suatu saat, hanya dengan bertanya kabar
Kau sudah menganggapnya sebuah kemajuan hubungan antara kalian
Suatu saat, senyuman, bisa saja dianggap sebagai hal spesial
Dan kau berpikir itu tanda kalian memiliki hal yang sama di hati

Tetapi, bagaimana jika kemudian hal ini adalah lumrah
Dia menunjukkan itu pada semua orang yang dikenalinya
Menyapa ramah siapa saja, tentu dengan batas-batas yang ia ketahui
Ya, dan semua takkan sama 

*bahkan ketika dia online disalah satu medsos kau sudah kegirangan, ckckck
Tahan hati anak muda, seperti biasa, mengulang-ngulang kata bang Tere di kepala. Dan sepertinya selalu mengena... hihihi

Sabtu, 20 September 2014

Istri seperti Mama

Sebelum berangkat kerja, aktifitas rutin di pagi hari adalah minum teh bersama. Duduk menyaksikan berita pagi lewat layar televisi. Mama sibuk mengganti channel dan akhirnya memilih tayangan yang menurutnya menarik, dan infotaiment adalah tempat mata berlabuh. Tertarik dengan sosok yang dibicarakan, saya ikut menonton. Dalam beritanya kali ini, diulas kehidupan seorang istri yang suaminya merupakan pejabat yang kemudian terkena kasus korupsi. 
Ibu ini terlihat senang dan dengan logat daerah yang melekat padanya, ia menjelaskan perihal makanan yang dibawanya untuk sang suami. Kebetulan hari itu adalah sidang yang kesekian kali untuk kasus suaminya, dan itu adalah kesempatan buatnya untuk bertemu kembali selain di hari-hari lalu ia datang menjenguk ke tahanan. 
Ia menyiapkan makanan itu bukan hanya untuk suaminya saja, tetapi juga untuk teman-teman lain yang mendukung suaminya. Beliau selalu menyiapkan seratus porsi makanan, juga teh dan kopi yang ia buat dengan senang hati. 
Hal yang mengharukan pun terjadi, bagian ini membuat saya dan Mama menitikkan airmata (dan akhirnya Bapak mematikan televisi .. hehehe). Ia ditanya mengenai perasaannya mengenai kasus suaminya, mengenai makanan apa yang ia buat, lalu ada kalimat yang saya tangkap, yang membuat saya sendiri merasa berbahagia sebagai seorang wanita.
Kurang lebih ia menyatakan. Di suatu kesempatan anak lelakinya memperhatikan sikap ibunya yang begitu telaten menyiapkan kebutuhan apapun untuk sang ayah Tetap memberi semangat dalam keadaan suka dan duka, apalagi saat ini sang ayah sedang menghadapi masalah. Si anak kemudian berkata "Saya ingin punya istri seperti Mama". 
Betapa anak ini menangkap ketulusan tindakan ibunya terhadap ayahnya. Ia menilai dari apa yang ia lihat dan kebaikan itu membuatnya mengeluarkan kata-kata menyentuh itu. 
Lalu, sampailah si ibu ini ke tempat sidang, dan saat istirahat, ia langsung menuju ke tempat suaminya. Memberikan makanan yang suaminya suka. Semuanya makanan tradisional rumahan, dan sang suami tampak lahap. Sesekali, tatapan tulus ibu itu mengarah pada suaminya, dan ia juga sempat menyeka sisa makanan di pipi suaminya itu. 

Ah, keadaan ini, mungkin akan sulit dihadapi oleh sebagian orang. Ibu ini menganggap hal yang dialaminya sebagai ujian. Suatu saat hal ini pun akan lewat. Entahlah, yang jelas dalam ibadahnya ia selalu menyisipkan doa terbaik untuk keputusan apapun yang dihadapkan padanya nanti. 

Saat ibu itu menatap suaminya, saya menangkap sekilas senyum ibu itu, dan seakan menyiratkan kata, aku ingin menjadi pendamping yang tetap saling mendukung saat susah maupun senang.

Jumat, 12 September 2014

Perasaan

Perasaan yang tak terbantahkan ini
Kau membuat ini kian rumit
Pertemanan yang biasa
Jadi luar biasa dibenakku
Hal-hal kecil yang dilakukannya sudah bernilai besar dimataku
Aneh kan?
Kembali, aku memutar ingatanku
Ya, aku hanya gadis biasa yang tidak memiliki kemampuan atau kriteria sebagai yang dipilih
Ya, aku terlalu banyak menghubung-hubungkan sesuatu yang sebenarnya kau lakukan itu setara dengan teman-teman lainnya.
Aku hanya menemukanmu dalam kesempatan ini
Berbagi denganmu sewajarnya dalam tugas yang sama
Untuk kedepannya aku tidak akan tahu
Perjumpaan itu adalah sebuah rahasia
Dan akan tiba saatnya, aku hanya potongan kecil memori yang menunggu untuk kemudian terhapus permanen dari kenangan-kenanganmu
Sepertinya aku belum bisa berkata-kata bijak atau membuat sajak-sajak pemikat dengan kosakata terbatas milikku.
Biarkan kemudian aku menggambarkan perasaan yang tak terbantahkan ini, lewat kata-kata sederhana
Apakah di sini aku mencoba untuk membuatmu paham?
Tebak saja...
Kau menyukai hal-hal yang sederhana, bukan?

*ah, sepertinya masalah perasaan akan tetap menjadi pembahasan yang panjang ...


Ungkap

Ada masa ketika kau ingin mengungkap
Ketika kesempatan itu datang kau selalu melewatkannya berkali-kali
Bilang saja. 
Ah, rasanya tidak biasa
Dan begitulah kesempatan itu terlewat lagi

Bagimu mungkin mudah
Tapi, aku sendiri tak biasa
Apa sulitnya?  katamu
Katakan saja
"Aku mencintai Mama dan Bapak karena Allah, terima kasih untuk sayang dan cinta yang tak terbatas untukku" 

Kamis, 11 September 2014

Kelak

Kelak dikemudian hari, ketika kau menemuiku, aku takkan memperlihatkan wajah muram. Wajah kesedihan saat kita berpisah. Wajah jenuh ketika kebersamaan mulai berlangsung lama. Yang ada hanya wajah berseri dipadu senyuman yang tak henti ketika mendengar ceritamu tepat saat kau kembali. Hidup membawa kita kearah yang berbeda-beda. Aku memilih jalan ini, dan berusaha berkarya di sini. Dan kaupun punya alasan mengapa kau tertarik dan akan menetap di sana lalu mengembangkan karyamu di sana. 

Aku pernah bercerita padamu, tentang takdir. Berpisah dan bertemu, menangis dan tertawa, berduka dan berbahagia. Caraku menjelaskannya padamu seolah aku ingin melihat kesedihan itu berakhir dengan kebahagiaan. Ya, sepertinya kau paham. Senyuman seakan selalu merekah tiap menit ketika menyampaikan hal-hal menarik tentang kehidupan yang kita rasakan. Lalu, meneteskan air mata saat cerita membuat hati ngilu kau tuturkan. 

Setiap manusia memiliki pertanggungjawaban atas diri mereka sendiri-sendiri. Begitupun aku dan kau. Meski hidup membawa kita di jalan yang berbeda. Meski kemudian, mataku tak dapat menangkap sosokmu karena jarak, dalam diam sujudku, doa itu tak henti-hentinya untukmu.

Ketika waktu yang digariskan untuk kita bertemu, tiba, aku akan menyambutmu dengan senyuman terhangat. Jika kau tak lelah, aku ingin menanyakan perihal keadaanmu dan petualangan yang telah kau lakukan di luar sana. Bertanya tentang alasan kau kembali. Bertanya tentang hal yang mungkin bisa terjalin antara kita. 

Ketika narasi ini terus bergulir dalam kata-kata, jelas, saat ini kita belum berjumpa. Aku bisa saja mengenalmu sebagai seorang teman lama, sebagai seorang teman dalam kelompok yang selama ini aku ikuti, atau mungkin sebagai orang asing yang ketika kemudian pandangan tertuju, berdua, ada perasaan yang berbeda. Mungkin seperti kutipan ini "Ada kupu-kupu menari dalam perutku" 

Senin, 01 September 2014

Sekedar Celoteh II

Jeduk...
Kali ini tepat di pintu masuk seorang teman. Maklum, postur mengharuskanku menunduk, tapi sepertinya rasa awasku agak terkikis hari ini, jadilah kepala bertemu pasak pintu. Rada pusing, tapi cepat-cepat aku berganti ekspresi. Ini bukan pertama kalinya. Pernah di rumah nenek, dan tante juga. Aih, malunya. Baru masuk hendak bertamu, semua menoleh gara-gara suara nyaring, terbentur. 

Kejadian ini takkan terulang jika kemudian aku berkonsentrasi penuh. Tetapi sepertinya ada hal yang terus bergantung di kepalaku. Pikiran yang membuatku terus merenung. Kadangkala aku memikirkan masalah sepele (menurut orang) atau memikirkan kesalahan yang aku perbuat ketika melakukan sesuatu, sepertinya aku tak bisa memungkiri cap yang diberikan teman kepadaku.

"Kau itu gadis yang terlalu banyak berpikir, terlalu khawatir dan akhirnya sulit memilih dan menentukan  kebaikan untukmu sendiri"

Terima kasih sobat. Kau tahu kan? Pastinya. Aku ini orang yang kurang peka terhadap diri sendiri. Sering melakukan kesalahan dan kemudian menyesali pilihan. Tetapi, yang aku tahu, Allah yang selalu menuntunku lewat perantara-perantaranya. Rasanya, dari masalah terbentur, aku memiliki pembahasan yang mendalam. hehehe..

Dan begitulah, kini September menemuiku. Ada banyak jejak di bulan-bulan lalu yang membahagiakan. Hei, jangan katakan aku kurang peningkatan. Aku berusaha kok. Benar. Semoga tak bosan mendengarkan curhatku. Maklum, aku butuh ruang berekspresi. Setelah bercerita rasanya lega. Menekan tuts di keyboard notebook kesayanganku, si Panda, membuatku ingin terus berkarya, memberi manfaat, dan bukan hanya sekedar celoteh. hehehe

So... welcome September.... ^_^


Sekedar Misteri

Jam berdetak meninggalkan angka-angka yang beranjak pergi
Biarkan malam menunjukkan indahnya 
Bintang-bintang bertabur dengan seenaknya
Ah, bersinar seperti itu dan membuat semesta melihatmu 
Sungguh, aku hanya bisa tersenyum dan tak henti berdecak kagum pada Pencipta mu

Ku edarkan pandangan sekeliling
Menatap punggung seorang insan 
Tak ada kata yang bisa aku ucapkan 
Aku hanya melihat beban berat di pundaknya yang tampak kokoh
Mungkin, orang lain tak melihatnya
Tetapi aku, tanpa sadar telah memperhatikannya lama...
Ingin rasanya berkata "kuatkan dirimu, kau pasti bisa"
Tapi setumpuk kata-kata yang sedianya aku ucap, tersendak di tenggorokan

Dari belakang, aku mengikut jejakmu
Sepertinya pun kau tak menyadari 
Sesampai di tanah berpasir
Ombak menggulung menyentuh kaki
Bulan purnama kian menyinari 
Samar, aku melihat wajah kekalutan yang kau tunjukkan 
Sepertinya rapuh kini mulai menghampirimu

Aku, ingin mendekat dan bertanya.
Lalu, riuh suara-suara langkah kaki berlari menujumu
Sekelompok sahabatmu telah mengambil alih situasi
Lega, senyum simpul bergelayut di wajahmu yang teduh 
Harusnya aku tak penasaran, 
Harusnya aku tak mengikutimu kemari
Lihatlah aku yang selalu ingin tahu keadaanmu 
Bertanya, apa kau baik-baik saja
Berdiri terpaku dan tak bisa berkata-kata

Kau, janganlah menyimpan sedih itu sendiri
Kau, cobalah membuka hati untuk bicara dan menemukan solusi bersama 
Wajah sendumu malam ini ternyata terlihat oleh gadis sepertiku
Gadis yang sok tahu dan selalu penasaran tentangmu 
Engkau seakan-akan misteri yang tak habisnya beredar dalam kasusku 

Tetapi, apakah kau tahu ini?
Apakah kau tahu aku? 
Apakah aku turut dalam daftar orang-orang yang pernah hadir di hidupmu? 
Malam makin larut, baiknya aku beranjak pulang
Menuliskan kisah keingintahuanku malam ini dan kembali di kehidupanku semula
Kau tahu, misteri, aku senantiasa mendoakan kebahagiaanmu 
Sesaat kau berbalik, saat itu pula aku tak ingin menatap kekalutanmu lagi
Tetapi, jika itu terjadi, aku harap 
Semoga ada saja orang yang akan membuatmu tersenyum
Senyum merekah yang kau tunjukkan malam ini.


Minggu, 31 Agustus 2014

Sekedar Celoteh

Sebuah kesyukuran mengecap dunia yang sementara ini. Sungguh ada banyak pelajaran yang mampu dirangkum sedemikian rupa. Aku belajar bagaimana seseorang bersikap atas masalah yang dihadapinya. Bagaimana kamu bergaul dengan orang-orang di sekelilingmu. Bagaimana akhirnya kamu jatuh cinta dan bagaimana kemudian harus merelakan. Aku bukan orang bijak yang bisa membuatmu nyaman dan termotivasi dengan kata-kata nasehat yang aku kucurkan. Aku juga bukan seseorang yang pandai memasak segala jenis makanan yang engkau senangi. Paling tidak aku bisa menjadi pendengar atas masalahmu. Berbagi kesedihan dan kebahagiaan bersama. Ah, jika mampu aku ingin kembali di saat kesekian kalinya kita berkumpul dan bercerita lagi..dan lagi.. 

Hei..bukankah masalah karakter itu takkan jadi pembicaraan yang membosankan. Ah ya..kurasa...jangan sampai tawaku terdengar tak terkendali. Juga, maafkan aku. Sekelumit rasa telah muncul dan kau pasti mengetahuinya, aku pun sempat bercerita. Rasanya akan menjadi perbincangan hangat lagi ketika bersua. Terima kasih masih setia memberitahukanku cara mengendalikan perasaan. Jelas kau akan tahu situasiku ketika rona merah memenuhi pipi tembemku. Hehehe...dan satu lagi, jangan bosan bersahabat denganku, meski aku menyadari aku adalah orang yang membosankan buatmu. Mungkin egois, tapi pahamilah. 

Di kehidupanku, aku kadang berpikir, lebih baik aku hanya mampir, berbuat sesuatu dengan kekuatan maksimal yang aku punya. Lalu, kemudian menghilang dalam kebahagiaan yang bisa aku saksikan dari raut wajah kalian. Mengingat seseorang lalu intens menyapanya, adalah hal yang sulit (atau mungkin karena kesibukan) buatku. Rasanya pun takkan berat jika hanya bertanya kabar. Dan ya, memang, tapi selanjutnya apa? Pasti kau gelisah dan ingin bertemu. Namun, apa yang bisa kamu katakan lagi setelah bertemu. Tentu, berbagi cerita. Lalu, berpisah. Dan "pisah" adalah sulit buatku. Pun aku berpikir, lebih baik aku pergi lebih dahulu, ketimbang ditinggalkan. 

Hah, dan rasanya mampir, meski hanya mampir, ada banyak memori yang takkan luput berputar-putar dalam ingatan. Aku ingin menetap, namun rasanya tak ingin ditinggalkan oleh penghuni lainnya. Ini bukan soal ingat dan lupa, namun bagiku, menyaksikan punggung seseorang yang melangkah menjauh, adalah hal yang berat...


*berceloteh tentang sifat egoisku, bertemu, berpisah, dan entahlah, apa yang aku bicarakan. bisakah aku memasukkannya sebagai dialog sebuah peran? 

Amanah yang Kedua

Lama tak menjumpaimu blog. Belakangan aku sibuk dengan tugas utamaku sebagai ibu dua anak. Tugasku kini bertambah, seiring dengan umurk...