Malam,
Seharusnya aku menderetkan banyak kisah
Aku berpikir, banyak hal yang menjadi prasangka yang tak terduga mampir di kepala
Sebuah pencitraan yang membuat jengah dan akhirnya melukai diri sendiri
Setidaknya tidak melukai orang lain.
Tapi apakah ini yang kamu mau? Tidakkah kamu ingin tampil apa adanya saja? Bukan untuk menjadi insan yang selalu ingin dinilai tampilan luarnya saja. Sedang di hati meraung-raungkan pemberhentian atas sikap.
Jika Allah subhanahu wa taala tak menutup aib diri, niscaya setiap insan takkan mampu mendekati dan membaui laku yang kian membusuk terlampau lama.
Aku pada diriku, berkaca kian tak percaya, bisakah aku merasa bahagia. Bertemu orang yang bisa melengkapi hidupku dan menasehatiku kala aku butuh. Tertawa dengannya dan menceritakan hal yang ingin aku ungkapkan tanpa batas antara kami. Ia menjadi penyemangatku kala aku telah lelah dengan diriku sendiri.
Aku tahu kamu takkan mampu memenuhi rasa ingin tahu orang dengan seluruh penjelasan yang kamu punyai.
Kamu takkan mampu membahagiakan tiap insan yang kamu temui ditiap fase perjalanan singkat yang kita lampaui bersama.
Aku ingin kamu mengenaliku dengan apa adanya aku. Tanpa laku yang berubah, dengan niat kepemilikan ikhlas karena saling melengkapi dan menuntun ke arah ridho-Nya.
Jauh, aku merasa.
Tiada lain dan tiada lagi, jelas sekali aku hanya bergantung pada penetapan-Nya dalam lingkar takdirku. Tiap detik tiada ragu. Merubah diri menjadi insan yang selalu mendekatkan diri dalam cinta sang Pencipta. Aku hanya sebiji dari hitungan seluruh pasir di pantai. Di atasku masih banyak hamba yang lebih baik takwanya, ibadahnya, lakunya, ikhlasnya. Aku sungguh rendah, tak berarti apa-apa jika aku menjauh dari-Nya.
Kamu, yang memasuki kehidupanku. Kiranya mungkin kamu kenal aku dalam kebahagiaan dan keceriaan. Namun, harus kamu tahu. Aku masih memiliki sepotong rasa egois, sepetak kecemburuan, segelas rasa iri, dan keinginan manusia dengan dasar hawa nafsunya.
Tetapi, usahaku mengarahkan diri, cemburu agar mampu memperbaiki diri, lebih baik. Egois karena menginginkan waktu lebih banyak dengan-Nya. Iri karena ingin jadi hamba keren , sekeren Khadijah, Aisyah, Fatimah, sahabat-sahabat Rasulullah, dan orang-orang yang mendekap iman ini, Islam ini, dengan istiqomah hingga ruhnya meninggalkan raga. Mereka berbahagia dengan imannya.
Dambaku, aku tak ingin hanya sekedar ingin. Bantu aku mendorongnya hingga titik terdalam agar ia tak bosan-bosan mengejar-ngejar cinta Robbnya. Langit temaram berhias cahaya gemintang, detak-detak jarum jam mengantar ke sepertiga malam. Kuhantar doa bagi dia yang tak aku tahu siapa yang sedia saling melengkapi, bagi mereka yang masih di jalan juangnya untuk iman di hati, dan untukku yang masih bergulat dan ingin istiqomah tetap menjulurkan kesediaannya atas aku yang tak berdaya.
Dalam keheningan malam Ramadhan, merindui yang terindukan, meresapi cinta sang Pencipta, mengecap syukur atas nikmat tiada tara. Ahlan wa sahlan Ramadhan.... ^_^
Sabtu, 28 Juni 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Amanah yang Kedua
Lama tak menjumpaimu blog. Belakangan aku sibuk dengan tugas utamaku sebagai ibu dua anak. Tugasku kini bertambah, seiring dengan umurk...
-
Bismillah, Kali ini ikut challenge dari Blogger Perempuan, selama 30 hari menulis blog sesuai dengan topik yang sudah ditetapkan. ...
-
Bismillah, Tema hari keenam adalah menceritakan lima fakta tentang diri sendiri... Mmm, baiklah akan saya coba ceritakan ~_~ - Moo...
-
Merenung tertunduk pada jalannya hati Tak tahu arah membawanya berlari Riuh, sorak sorai tak peduli Berbalik arah tak mungkin lagi ...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar