Tahun 2016 , alhamdulillah putra pertama kami lahir dengan selamat. Meskipun pada awalnya, saya ragu jika akan melahirkan normal karena berat badan yang over. Tapi, pada akhirnya bidan yang menangani saya waktu itu, terus memberikan dorongan dan semangat. Dari sinilah, saya mulai belajar, bahwa kenaikan badan saat hamil itu memang wajar, namun tetap harus dalam keadaan terkontrol. Jika tak ingin naik berlebihan, hindari makan malam yang berlebihan. Ah, saat itu saya sering kelaparan tengah malam, dan sesudah makan rasa kantuk menyerang, walhasil belum cukup dua jam, saya sudah lelap.
Setelah lahiran, masalah lain datang. Saya tidak bisa memberi Asi sebanyak ibu lainnya. Rasanya sedih sekali. Asi saya hanya keluar beberapa tetes dan dalam waktu lama, sementara si bayi sudah kehausan. Saya berupaya untuk tetap menyusui dan dibantu dengan obat pelancar asi. Sehari, bayi saya masih bisa bertahan, namun esok harinya tepatnya dini hari, ia tak berhenti menangis hingga mulai membiru. Akhirnya saya merelakan dia minum susu formula dengan cara disendokkan ke mulutnya. Mengapa pakai sendok? Agar si bayi tidak bingung puting. Tetapi, selain susu formula, saya tetap berupaya menyusuinya. Dan di hari ketiga, dengan menggunakan pompa manual, asi saya mulai banyak keluar, namun tetap tak mencukupi kebutuhan si bayi. Susu formula tetap bersanding dengan asi yang saya berikan. Hal ini berlangsung selama tiga minggu. Sampai suatu hari, karena -teledor mengangkat beban berat, saya panas dingin tiga hari dan normal kembali di hari kelima. Menjadi pejuang asi itu bukanlah hal yang mudah bagi sebagian orang. Jadi, berbahagialah jika mampu meng-asi-hi anak dengan baik. Fase pertama untuk pemberian makanan terbaik si bayi, akhirnya gagal untuk saya lakukan. :(
Memasuki usianya yang ke enam bulan. Saya banyak berdiskusi dengan Mama dan Ibu mertua tentang makanan yang baik untuknya. Awalnya saya memberikan makanan bayi instan, lalu menggantinya dengan makanan yang biasa kami makan di rumah. Nasi dicampur dengan berbagai lauk dan sayur, dihaluskan sampai layak cerna oleh si anak. Si anak kadang makan lahap, kadang juga dilepeh saja. Mungkin karena dia sudah kenyang minum susu dan akhirnya enggan untuk makan.
Menginjak usianya yang hampir 7 bulan, ia menderita DBD. Ingat sekali, saat itu di hari ketiga dia demam, dia nampak baik-baik saja dan tidur dengan pulas. Tetapi pada dini hari, ia nampak lemah dan selalu berteriak kesakitan. Akhirnya kami membawanya ke rumah sakit dalam keadaan ia tertidur. Di cek suhu tubuhnya, anggota tubuh lain seperti mata dan mulutnya pun di periksa. Saat itu juga sample darahnya diambil dan di cek di laboratorium. Beberapa jam diketahuilah kalo ternyata si anak menderita DBD. Dia diopname selama lima hari, bersama empat orang balita lainnya yang memiliki sakit bermacam-macam. Sedih sekali elihat dia menangis sejadinya ketika darahnya diambil, namun harus bagaimana, hal itu harus dilakukan. Di saat inilah berat badannya menurun.
Setelah semuanya berlalu, alhamdulillah, ia tumbuh menjadi anak yang begitu lincah, meskipun belum terlalu lancar berbicara. Usianya kini dua tahun lebih, saya mengharapkan ia menjadi anak sholeh yang tumbuh sehat, cerdas dan berbudi mulia. :)
Memasuki usianya yang ke enam bulan. Saya banyak berdiskusi dengan Mama dan Ibu mertua tentang makanan yang baik untuknya. Awalnya saya memberikan makanan bayi instan, lalu menggantinya dengan makanan yang biasa kami makan di rumah. Nasi dicampur dengan berbagai lauk dan sayur, dihaluskan sampai layak cerna oleh si anak. Si anak kadang makan lahap, kadang juga dilepeh saja. Mungkin karena dia sudah kenyang minum susu dan akhirnya enggan untuk makan.
Menginjak usianya yang hampir 7 bulan, ia menderita DBD. Ingat sekali, saat itu di hari ketiga dia demam, dia nampak baik-baik saja dan tidur dengan pulas. Tetapi pada dini hari, ia nampak lemah dan selalu berteriak kesakitan. Akhirnya kami membawanya ke rumah sakit dalam keadaan ia tertidur. Di cek suhu tubuhnya, anggota tubuh lain seperti mata dan mulutnya pun di periksa. Saat itu juga sample darahnya diambil dan di cek di laboratorium. Beberapa jam diketahuilah kalo ternyata si anak menderita DBD. Dia diopname selama lima hari, bersama empat orang balita lainnya yang memiliki sakit bermacam-macam. Sedih sekali elihat dia menangis sejadinya ketika darahnya diambil, namun harus bagaimana, hal itu harus dilakukan. Di saat inilah berat badannya menurun.
Setelah semuanya berlalu, alhamdulillah, ia tumbuh menjadi anak yang begitu lincah, meskipun belum terlalu lancar berbicara. Usianya kini dua tahun lebih, saya mengharapkan ia menjadi anak sholeh yang tumbuh sehat, cerdas dan berbudi mulia. :)
Si anak saat masih umur 1 tahun :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar