Tampilkan postingan dengan label Kisah Sekedar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Sekedar. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 September 2014

Sekedar Celoteh II

Jeduk...
Kali ini tepat di pintu masuk seorang teman. Maklum, postur mengharuskanku menunduk, tapi sepertinya rasa awasku agak terkikis hari ini, jadilah kepala bertemu pasak pintu. Rada pusing, tapi cepat-cepat aku berganti ekspresi. Ini bukan pertama kalinya. Pernah di rumah nenek, dan tante juga. Aih, malunya. Baru masuk hendak bertamu, semua menoleh gara-gara suara nyaring, terbentur. 

Kejadian ini takkan terulang jika kemudian aku berkonsentrasi penuh. Tetapi sepertinya ada hal yang terus bergantung di kepalaku. Pikiran yang membuatku terus merenung. Kadangkala aku memikirkan masalah sepele (menurut orang) atau memikirkan kesalahan yang aku perbuat ketika melakukan sesuatu, sepertinya aku tak bisa memungkiri cap yang diberikan teman kepadaku.

"Kau itu gadis yang terlalu banyak berpikir, terlalu khawatir dan akhirnya sulit memilih dan menentukan  kebaikan untukmu sendiri"

Terima kasih sobat. Kau tahu kan? Pastinya. Aku ini orang yang kurang peka terhadap diri sendiri. Sering melakukan kesalahan dan kemudian menyesali pilihan. Tetapi, yang aku tahu, Allah yang selalu menuntunku lewat perantara-perantaranya. Rasanya, dari masalah terbentur, aku memiliki pembahasan yang mendalam. hehehe..

Dan begitulah, kini September menemuiku. Ada banyak jejak di bulan-bulan lalu yang membahagiakan. Hei, jangan katakan aku kurang peningkatan. Aku berusaha kok. Benar. Semoga tak bosan mendengarkan curhatku. Maklum, aku butuh ruang berekspresi. Setelah bercerita rasanya lega. Menekan tuts di keyboard notebook kesayanganku, si Panda, membuatku ingin terus berkarya, memberi manfaat, dan bukan hanya sekedar celoteh. hehehe

So... welcome September.... ^_^


Sekedar Misteri

Jam berdetak meninggalkan angka-angka yang beranjak pergi
Biarkan malam menunjukkan indahnya 
Bintang-bintang bertabur dengan seenaknya
Ah, bersinar seperti itu dan membuat semesta melihatmu 
Sungguh, aku hanya bisa tersenyum dan tak henti berdecak kagum pada Pencipta mu

Ku edarkan pandangan sekeliling
Menatap punggung seorang insan 
Tak ada kata yang bisa aku ucapkan 
Aku hanya melihat beban berat di pundaknya yang tampak kokoh
Mungkin, orang lain tak melihatnya
Tetapi aku, tanpa sadar telah memperhatikannya lama...
Ingin rasanya berkata "kuatkan dirimu, kau pasti bisa"
Tapi setumpuk kata-kata yang sedianya aku ucap, tersendak di tenggorokan

Dari belakang, aku mengikut jejakmu
Sepertinya pun kau tak menyadari 
Sesampai di tanah berpasir
Ombak menggulung menyentuh kaki
Bulan purnama kian menyinari 
Samar, aku melihat wajah kekalutan yang kau tunjukkan 
Sepertinya rapuh kini mulai menghampirimu

Aku, ingin mendekat dan bertanya.
Lalu, riuh suara-suara langkah kaki berlari menujumu
Sekelompok sahabatmu telah mengambil alih situasi
Lega, senyum simpul bergelayut di wajahmu yang teduh 
Harusnya aku tak penasaran, 
Harusnya aku tak mengikutimu kemari
Lihatlah aku yang selalu ingin tahu keadaanmu 
Bertanya, apa kau baik-baik saja
Berdiri terpaku dan tak bisa berkata-kata

Kau, janganlah menyimpan sedih itu sendiri
Kau, cobalah membuka hati untuk bicara dan menemukan solusi bersama 
Wajah sendumu malam ini ternyata terlihat oleh gadis sepertiku
Gadis yang sok tahu dan selalu penasaran tentangmu 
Engkau seakan-akan misteri yang tak habisnya beredar dalam kasusku 

Tetapi, apakah kau tahu ini?
Apakah kau tahu aku? 
Apakah aku turut dalam daftar orang-orang yang pernah hadir di hidupmu? 
Malam makin larut, baiknya aku beranjak pulang
Menuliskan kisah keingintahuanku malam ini dan kembali di kehidupanku semula
Kau tahu, misteri, aku senantiasa mendoakan kebahagiaanmu 
Sesaat kau berbalik, saat itu pula aku tak ingin menatap kekalutanmu lagi
Tetapi, jika itu terjadi, aku harap 
Semoga ada saja orang yang akan membuatmu tersenyum
Senyum merekah yang kau tunjukkan malam ini.


Minggu, 31 Agustus 2014

Sekedar Celoteh

Sebuah kesyukuran mengecap dunia yang sementara ini. Sungguh ada banyak pelajaran yang mampu dirangkum sedemikian rupa. Aku belajar bagaimana seseorang bersikap atas masalah yang dihadapinya. Bagaimana kamu bergaul dengan orang-orang di sekelilingmu. Bagaimana akhirnya kamu jatuh cinta dan bagaimana kemudian harus merelakan. Aku bukan orang bijak yang bisa membuatmu nyaman dan termotivasi dengan kata-kata nasehat yang aku kucurkan. Aku juga bukan seseorang yang pandai memasak segala jenis makanan yang engkau senangi. Paling tidak aku bisa menjadi pendengar atas masalahmu. Berbagi kesedihan dan kebahagiaan bersama. Ah, jika mampu aku ingin kembali di saat kesekian kalinya kita berkumpul dan bercerita lagi..dan lagi.. 

Hei..bukankah masalah karakter itu takkan jadi pembicaraan yang membosankan. Ah ya..kurasa...jangan sampai tawaku terdengar tak terkendali. Juga, maafkan aku. Sekelumit rasa telah muncul dan kau pasti mengetahuinya, aku pun sempat bercerita. Rasanya akan menjadi perbincangan hangat lagi ketika bersua. Terima kasih masih setia memberitahukanku cara mengendalikan perasaan. Jelas kau akan tahu situasiku ketika rona merah memenuhi pipi tembemku. Hehehe...dan satu lagi, jangan bosan bersahabat denganku, meski aku menyadari aku adalah orang yang membosankan buatmu. Mungkin egois, tapi pahamilah. 

Di kehidupanku, aku kadang berpikir, lebih baik aku hanya mampir, berbuat sesuatu dengan kekuatan maksimal yang aku punya. Lalu, kemudian menghilang dalam kebahagiaan yang bisa aku saksikan dari raut wajah kalian. Mengingat seseorang lalu intens menyapanya, adalah hal yang sulit (atau mungkin karena kesibukan) buatku. Rasanya pun takkan berat jika hanya bertanya kabar. Dan ya, memang, tapi selanjutnya apa? Pasti kau gelisah dan ingin bertemu. Namun, apa yang bisa kamu katakan lagi setelah bertemu. Tentu, berbagi cerita. Lalu, berpisah. Dan "pisah" adalah sulit buatku. Pun aku berpikir, lebih baik aku pergi lebih dahulu, ketimbang ditinggalkan. 

Hah, dan rasanya mampir, meski hanya mampir, ada banyak memori yang takkan luput berputar-putar dalam ingatan. Aku ingin menetap, namun rasanya tak ingin ditinggalkan oleh penghuni lainnya. Ini bukan soal ingat dan lupa, namun bagiku, menyaksikan punggung seseorang yang melangkah menjauh, adalah hal yang berat...


*berceloteh tentang sifat egoisku, bertemu, berpisah, dan entahlah, apa yang aku bicarakan. bisakah aku memasukkannya sebagai dialog sebuah peran? 

Sabtu, 21 Juni 2014

Sekedar Cerita Si Kakak dan Si Adik


Ide-ide mulai menautkanku pada tulisan panjang. Rasanya ia ingin segera kutuangkan sebelum rasa malas kembali melingkupiku. Netbook yang telah menemaniku selama empat tahun belakangan menjadi tempat curahan hati. Memori data D dipenuhi dengan tulisan-tulisanku. Semuanya aku jadikan satu sarang agar kemudian aku tidak bingung mencari kemana mereka semua.  Maklum, banyak di antaranya tidak jelas kapan akan kelar ,sebagian lainnya menunggu komentar dari kawan terpercaya, lalu sebagian lainnya rencana ingin aku kirimkan ke media. Berharap satu di antara sekian yang aku kirimkan bisa terbit.

“Kak ! Air udah mendidih tuh”

Uh, rasanya aku ingin menghilang sejenak meninggalkan rutinitas pekerjaan rumah. Huwa… bagaimana tulisanku bisa selesai.

Ratapku dalam hati, dan selalu demikian. Andai saja aku mampu meminjam alat Doraemon, permintaanku itu bisa saja jadi kenyataan. Aih, tak berhentinya imajinasiku ini. Kenyataan mulai memaki karena aku terlalu larut dengan khayalku yang canggih. Pernah juga satu kali, aku ingin sekali memiliki pintu kemana saja. Mau tahu kenapa? Ini semua gara-gara rasa iri pada seorang teman. Ia mulai mengunggah foto-fotonya di setiap belahan dunia tempat ia memijakkan kaki.

“Oh, China…”

Status terupdatenya saat itu. Dengan memajang foto saat ia menapaki tangga di tembok China yang super legendaris. Lalu berikutnya, Thailand. Foto-fiti saat wara-wiri di sekitaran pasar Thailand sana, menikmati perjalanan di pasar apung Thailand. Sungguh bikin nyesek. Yang paling nyesek, seorang teman telah umroh. Muka mupeng karena pengen. Ya Robb, saya kapan ya ? -_-

Ya, begitulah nasib seorang pecinta travel yang tidak punya banyak rupiah. Hanya bisa mendam rasa dan nunggu tabungan pas buat jalan. Oya, jangan jadikan rasa iri itu membuatmu menjadi berlaku negative sama yang jadi sasaran ke-iri-anmu. Jadikan ia sebagai pendorong buat cita-cita yang masih kamu usahakan. Aku biasanya mikir, masa mereka bisa aku ngga’. Tapi kadang ucapanku itu nangkring di otak saja gara-gara, ya, malas itu tadi. Jadi sebisa mungkin hindari si malas itu ya ,Nak. Dia ngga sungkan membuat kamu nyesal dan hilang kesempatan. Jangan ulangi kesalahan yang sama, Nak.*berasa jadi Emak..hihihi…

Kembali soal tulisan. ^_^

Bisa dibilang saya pecinta seni sejak kecil. Dari SD dapat juara lomba nyanyi dan puisi (Tidak maksud pamer ya pemirsa). Karena kemudian saya memilih hengkang dari dunia tarik suara, karena lebih mengedepankan menjaga aurat (suara) saya. Dan…tada… menulis menjadi kegiatan rutin melepas penat, sakit hati, kesepian, sampai dari bahagia ke bahagia pake banget dan banget.

“Ih, nih kakak, dibilangin juga, tuh air dah mendidih dari tadi. Dimarahin Emak, Didin ngga tanggung jawab loh”
“Iya… iya.. sabar.. orang sabar disayang Alloh adik manis.”
“Bilangin sabar ama airnya tuh kak, dari tadi udah pada demo pengen keluar dari panci gara-gara kepanasan”

Udah dongkol kali adik saya yah, akhirnya dia mengucurkan kata-kata seperti itu. Saya, hanya cengengesan dan berlalu meninggalkannya yang geleng-geleng kepala. Baru kelas 5 sekolah dasar, kelakuannya lebih baik (mungkin) ketimbang saya dan berlagak kayak orang dewasa.  Suatu hari saya nonton tv sama dia.

“Kak, ganti channel dong”
“Ngga ah, lagi seru nih, tuh kan Barbie udah mau ketemu pangeran tuh”
“Dasar tontonan anak perempuan”
“Kamu bilang apa tadi?“
“Kan kakak perempuan, tontonan andalannya Barbie. Nah kalau perempuan dan masih suka Barbie sudah betulkan kalau dibilangin dasar anak perempuan. Soalnya hanya anak perempuan yang suka sama Barbie. Tapi, tunggu, kakak ini masih kategori anak-anak apa bukan ya? Umur setahun lagi dua puluh masalahnya”

Merasa disindir, geser kursi, matiin tv, dan angkat kaki. Benar-benar jengkel tingkat tinggi.

“Ckckck, benar, kakak masih kayak anak-anak, ngambekkan, manyun pula”
Si adik nyalain tv lagi. Pas lagi serunya. Mati lampu.
“Yah, mati lampu. Ah, padahal Tsubasa mau nendang bolanya ke gawang”
Nungguin si listrik nyala, si adik ngitung sampai sepuluh. Hitungan sepuluh lampu sudah menyala lagi.
“Kakak dari mana? “

Waduh, dia ngeliat, padahal ini lagi ngendap-ngendap ke kamar.

“Habis dari teras, tadi. Kenapa?” jawabku agak jutek.
“Maafin Didin, kayaknya gara-gara gangguin kakak tadi, akhirnya Didin juga kena balasan”

Beuh, ternyata dia menyadari.

“Dimaafin, kan, Kak?”
“Mm” jawabku seraya mengangguk.
“Jangan di ulang ya”

Kata-kataku dibalas anggukan oleh si adik. Dalam hati rasa tidak enak mulai menyerang. Benarlah pikiran sebagai kakak yang licik nempel di jidat. Tidak tahu saja adikku kalau aku yang mengerjainya dengan mematikan kilometer lampu (ngga tau nama resminya apa) di teras. Kelakuan…ckckck… jangan di contoh ya… hehehe…


Nyambung lain kali ^_^

Amanah yang Kedua

Lama tak menjumpaimu blog. Belakangan aku sibuk dengan tugas utamaku sebagai ibu dua anak. Tugasku kini bertambah, seiring dengan umurk...