Tampilkan postingan dengan label Rangkai Kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rangkai Kata. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Agustus 2014

Selisih

Katakan apa yang ada
Bentak dan bentak
Salah paham
Wajah masam
Pukulan dalam dada yang tak kasat mata
Mungkin hanya lewat bibir
Tapi... rasa teriris sembilu sedalam pedih hati

Kau dan Pagi

Aku tak menyangka, hari-hariku dilingkupi dengan pikiran tentangmu
Tentang kau, hujan di sore itu, dan pagi
Ya, aku senang berbicara denganmu kala pagi
Saat wajah kusutmu masih terpahat di sana
Tapi, aku tersadar, kau masih di tempat berbeda

Entah kenapa pagi menjadi saat aku kembali memutar pikiran padamu
Harusnya saat itu aku lebih bergegas mengejar rezeki yang dibagikan Robb-ku
Senyum...senyum...dan menunduk
Ah, rasanya aku jadi malu pada dedaunan berembun atau
pada mentari yang mulai meninggi di ufuk timur

Aku mengaitkan logika dan rasa
Tetap saja mereka tak mau beriringan
Hei.. harusnya kalian sejalan
Tapi ini urusan yang berbeda
Perasaan dan logika punya hak tindakan mereka masing-masing

Selasa, 12 Agustus 2014

Kesan

Terketuk hati pada seorang pemuda
Merangkai risih laku tak tertata
Mungkin pikirnya mencatat
Aku hanyalah sekeping puzzle yang mengganggu
Tak kunjung selesai dan kemudian terlupakan

Oh, tidak, puzzle mungkin rumit
Bisa jadi aku hanyalah sepotong kenangan yang tak sengaja mampir
Tak ada yang istimewa
Tak ada kesan
Namun, harus bagaimana, dia telah meninggalkan jejak dalam pikirku



Minggu, 10 Agustus 2014

Sulit Pisah

Perpisahan, kata yang mengakhirkan pertemuan
Entahlah, tapi rasanya akan sangat menyakitkan
Itulah mengapa kadang seseorang memilih untuk tak mengucapkannya 
Meskipun kemudian sesal karena tak ada kata terucap, untuk melepasnya. 
Bahagia, awal pertemuan yang bahagia
Sejak kecil, imajinasi denganmu selalu membawaku pada pikiran yang tak terbatas
Ya, masa-masa kanak-kanak yang aku tahu hanya rasa bahagia mengenalmu 
Hei, kau menghiburku
Jadi, jangan katakan kalau kamu hanyalah bahagian dari masa kanakku saja
Ya... aku membawamu di masa remaja yang sulit juga
Aku tak merasa lelah
Aku yakin tetap setia denganmu 
Dan aku harap kaupun begitu

Tiap episode hidupmu, aku ikuti
Mungkin agak sulit melihat semuanya
Karena, batas negara kita yang membuat sulit untuk menatap secara langsung

Hmm, aku mendapati kabarmu.
Katanya kamu akan segera mengakhiri episode-episode itu?
Meskipun aku katakan jangan, kamu pun mungkin tak bisa berbuat apa-apa
Mendengar soundtrack untuk episodemu berikutnya membuatku bersedih
Ah, ya, benar, kamu semakin menua dengan pribadi dan wajah yang sama sedari dulu
Benarlah, pisah, sulit untuk aku terima
Untukmu, aku berharap, semoga tetap mengisi hidupku dengan kabar-kabar 
Juga dengan episode-episode yang membuat kita tetap berjumpa


*versi ngga mau ditinggal Doraemon dan masih menanti movie-nya... Standby Me 

lalu ini dia soundtracknya....dari Motohiro Hata - Himawari no Yakusoku (Doraemon Stand By Me) atau Janji Bunga Matahari



Tentang Aku dan Derap Waktuku

Mendung menemani hariku menyusuri jalan raya
Wajah - wajah gelisah di antara baris-baris kendaraan yang kian bertambah
Macet...
Plat putih masih tertempel, ah ya, ini kesan pertama membawa amanah baru
Masih, pemberian dari Bapak Ibu
Hadiah buatku
Jelas, aku sangat berterima kasih
Aku terima sebulan sebelum aku memasuki usia baru kemarin
Makin tua.
Kata-kata yang beriring doa yang tersampaikan, mengembangkan senyum di wajah lusuhku
Yah, ini karena dalam kondisi lelah bekerja
Kemarin, ada banyak pikiran yang beredar satu-satu di kepala
Dan ada juga pikiran itu yang masuk ke dalam doa yang tersampaikan sahabat
Jawabku... doakan saja yang terbaik
Aku.. masih.. belum menemukan...

Ah, mendung ini telah jadi hujan
Kemarin, hujan turun di pergantian umurku
Doa dan introspeksi
Terkabullah dan semoga kuat memperbaiki diri.
Pagi , datang hari ini
Syukur, aku masih bisa menemukan bahagia fajar, keindahan pagi, lembutnya resapan embun pada langit yang merona indah dalam kuasa-Nya
Hai, sapaanmu pagi, membelai lembut telingaku dan membawaku pada masa depan yang tak tergambarkan

Rabu, 23 Juli 2014

Tak Masalah

Ada bias gelisah di nada suaramu
Terentang rasa ingin tahu untuk mengerti apa itu
Jika bisa aku hapuskan
Jika bisa aku berikan saran
Atau...atau mungkin aku bisa membuatmu nyaman.. katakanlah

Langit malam dalam keagungannya
Aku hanya bisa menghela nafas
Aku gagal memintamu berkata-kata
Baiklah, jika gelisahmu ingin kau tutup rapat
Tak masalah, selama kau bisa membaca senyum tulus penghapus gundah

Senin, 21 Juli 2014

Kian Pergi Ramadhanku...

Rapat aku gelarkan bait-bait kesunyian diantara malam-malam akhir
Merapal doa-doa menuju langit 
Untai hikmah di balik singkat temu bulan kemuliaan 
Tunduk hati-hati yang kian merubah tatkala waktu terus dalam gulirannya

Bukan deret kata memikat yang mengubah haluan
Bukan setumpuk janji yang menghantar kebahagiaan 
Bukan seluas puji dalam pribadi yang mengikat keridhoan
Kadar hati dan lakulah yang menuntun ke arah paling diharapkan

Aku bukan pribadi yang senang berpisah
Temu satu dua tak lantas membuatku puas bersua
Ramadhan disaat-saat akhir perjumpaannya 
Takkan rela aku berpisah dengannya 

Apakah aku telah memanfaatkan jatah waktu perjumpaan kita dengan laik?
Apakah aku tergolong ummat rugi di masa ini?
Apakah hatiku telah benar pada tahap ini?
Ramadhan kian menapak pergi, akankah kita  akan"sampai berjumpa" ataukah "selamat jalan selamanya"


Ramadhanku yang kian pergi. Tak aku rasakan waktu begitu cepat menggulir di hari-hariku. Menyisakan banyak tanya dalam benakku. Mengusikku dengan rasa malu  yang tertatih dalam ibadahku... Aku harap kita akan "sampai berjumpa" lagi... :)


Kamis, 03 Juli 2014

Sajak Untukmu Yang Terpilih


Kata-kata menjulur sepanjang orasinya
Berbalut perhatian daripada sekeliling
Memintakan sejuta sokongan
Membungkus makna dalam kata-kata
Janji manis terpatri pahit di kening pendengar
Menggerus rasa dan logika
Sayang jika radang tak terobat
Sayang jika kata tak terbukti
Sayang jika biola yang kau mainkan dengan suara merdu, jadi tak berdawai saat kami butuh

Lirih aku merasa risih
Sumbang suaraku, sungguh, tak mengerti
Duhai yang di sana, menolehlah saat kami memanggil
Karena sebuah panggilan sangat berharga
Jangan kira janji manis hanya kami rasa di lidah
Ia telah sampai di ruang terpisah ingatan kami
Ia terkungkung di ruang terdalam dan menolak untuk terlupa

Juangkan apa yang telah kami suarakan
Jadikan kebaikan atas negeri yang dicinta
Kami gaungkan harapan kami pada yang terpilih
Bawalah kami percaya

Bahwa, harapan kami tidaklah sia-sia

Jumat, 27 Juni 2014

Pergi Jauh

Dan kadang kala kita menemukan hati dalam kediaman dan kesepian keadaan.
Rasa yang memuncah kemudian surut tatkala tiba pada batasnya
Namun, pengharapan atas rasa tertinggi itu adalah agar ia takkan jauh dari batas semestinya
Ia ingin selalu setia pada skala terbaik
Menghimpun kenyataan atas fakta - fakta
Merajutnya dalam bait seni terindah
Pengagungan pada sang Pencipta, pemilik ajaibnya dunia

Terbata-bata pernah berucap kata ragu
Berbicara keraguan dalam kadar tertentu
Berusaha mengerti maksud satu-satu
Meraba - raba hal terindah di masa itu
Ragu-ragu, haru biru , was-was
Jauh-jauh dari aku
Akan aku hapus kamu dari otakku

Tak ada nelangsa malam-malam bersama
Menundukkan hati
Takluk pada kuasa tertinggi atas diri
Ragu-ragu, haru biru, was-was
Sekali lagi aku ingatkan kamu
Jauh-jauh dari aku
Tak ingin aku terganggu karena kamu
Malam kini aku menyemai kasih dengan-Nya kekasih sejati

Senin, 16 Juni 2014

Paham

Jejak langkah terlampau jauh
Mengikut bayang diri dari kejauhan
Aku paham, jarak takkan menyatu
Aku paham, kau telah memilih
Sepahamnya aku hingga nalar tak mampu lagi protes
Daya akan hati seakan memudar 
Pendaran atas jiwa yang berbahagia tiada seindah lalu
Jauh, aku tatap parasmu berlatar warna senja

Dentam jantung
Apakah kau rasa?
Meski beribu kali berpaling, sungguh
Waktu mungkin akan memudarkannya
Namun, rasa tetap ada saat bersua
Dentam jantung yang bahkan menggetarkan selingkup tubuh 

Sabtu, 14 Juni 2014

Hujan

Di bawah hujan
Aku meleburkan semua rasa
Semua pikirku
Semua kegamanganku
Tetes air menyejukkan mendentam kerontangnya hati
Bahkan hingga saat ini
Logika dan hati masih memihak kepadamu
Ah, bagaimana aku memutusnya
Aku harus merelakanmu

Rabu, 04 Juni 2014

Dalam Do'a


Ya Rabb...
Pembuka takdirku
Kuatkanlah ikatan semangat hidupku
Pilihkan jalan terbaik atas kegamangan di antara pilihan-pilihan

Jalan kebahagiaan meliputi temaram dasar hati
yang rapuh tanpa bimbingan
Lalu ku hadapkan wajah pada garis takdir
Yang mewujudkan pertemuan di batas senja

Senin, 02 Juni 2014

Temukan

Tenanglah...
Di sana kau akan menemukan titik cahaya
Cahaya pencerahan pencarianmu
Lama...
Selamilah lebih lama
Selama itu kau akan menemukan ruang
Ruang yang telah lama kau miliki
Dapatkan....
Setelah kau dapatkan
Kau takkan menyangka bahwa ia sedekat itu....

Cinta

Cinta, mengajakku dalam dekapan iman yang panjang. Atas yakinku pada Pencipta ku , atas yakinku pada tauladan Rasul ku.

Cinta. Kata tersulit yang  pernah ada ketika aku berhadapan denganmu. Ia merasuk ke dalam sanubari tanpa tersadari. Membisiki rindu kepada hati tak berpenghuni. Menguntai angan akan bahagia sejoli. Cinta. Kata itu mengangkat rasaku atas kesendirian, atas kepedihan, atas lara, menghamburkan kesedihan, mengoyak pilu.

Cinta merengkuhku dalam bait-bait syairnya. Mengantarku pada pelataran hatinya. Menelusupkan kasih atas si pembawa hati. Si penerima takdir atas diriku.

Cinta. Ada banyak kata yang terangkai karenamu. Engkau membawa jari ini mengukir asa untuk diri. Melambungkanku pada bahagia atas hati terbalas. Namun, kadang kau bagai menghempaskan seorang, kala ia tak mampu memegang kendali atas perasaan.

Cinta, tumbuh dengan fitrahnya. Mengakar ke relung terdalam hati. Ia subur kala disirami tepat. Namun, akan layu dan gugur kala terlupa. Ia akan baik dalam penjagaan baik. Namun, buruk dalam penjagaan buruk.


Cinta, kau hanya sebuah kata dalam tulisanku. Tapi, ketika kau memasuki ranah rasa. Sebanyak apapun kataku, kau tetap tak dapat ku defenisikan dengan tepat dan fasih. Kau kata yang kurasa, kata yang melukis bahagia, kata yang mengutuhkan aku dengan belahan jiwa, yang mengikatku pada sanak keluarga, kata yang merangkulku pada sang Pemilik atas cinta sejati.

Minggu, 01 Juni 2014

Hujan awal Juni

Akhir kisah atas bulan Mei
Menepi batas atas sabar
Hujan bulan Juni
Menepis debu-debu tepian jalan
Kala aku tersungkur dalam lara
Entah bagaimana dan harus apa?
Jalan kurengkuh sejak dulu pergi
Mengambangkan anganku yang tak kesampaian
Risaulah hati bagai ditohok sembilu
Pilu menusuk tak tertahankan

Maaf , aku tak sanggup menanggung
Maaf , aku tak mampu mengubah
Bingkai tataan salah
Tak kuasa aku baikkan
Ah, benar salahku jua
Hujan bulan Juni , bawa aku meresapi tetesanmu

Meluruhkan sedihku
Tumpahan tangisku
Basahilah perihnya kepiluanku
Tenggorokanku tertahan kata-kata sesal
Hatiku meraung tak terdengar telinga manusia

Hujan bulan Juni
Dengan seru sang Penguasa mu
Ku mohon bawalah keajaiban layaknya di negeri dongeng
Bawalah keajaiban di nyataku
Bawalah ia penguatku atas salah yang terlampau menyedihkan

Sabtu, 31 Mei 2014

Andai

Kadang aku tak perlu berucap
Kadang aku tak perlu berlaku
Tatap mata sudah menerjemah
Baris kata yang ingin aku ucap
Gerik diri jadi gambaran laku atas hati

Terlalu banyak cerita romantis
Terlalu banyak kisah miris hati bertepuk sebelah
Terlalu banyak rindu yang menyurat tak tebalas
Bagaimana aku menggambarkan laraku ?
Setidaknya , aku hanya memberi senyum terhangat

Senja kali ini, aku mengingatimu
Di beranda menghadap  taman
Dilatari warna oranye sang cahaya senja
Menyeruput teh khas
Mengangankan tentang kita

Ah, buru-buru melupa
Kau mungkin takkan mengangankan yang sama
Senyum sendiri
Ya, senja itu
Aku menertawai diri yang terlampau menyedihkan

Meredam Rasa

Aku mengintip kabarmu dari pelupuk jendela
Melihatmu dari jauh
Apa kabar dirimu?
Bagaimana hidupmu?
Lancangkah aku memasuki hidupmu tanpa permisi?

Teman, aku memulai dengan pertemanan
Kala itu aku bersua biasa saja
Namun, mungkin, aku tanggapi rasa berbeda
Menegur khayalku
Aku memilih menghapus , berusaha melupa

Tapi...
Ah, biarlah aku menerka rindu lewat fajar
Menatap bahagia lewat senja
Menyampaikan do'a di sepertiga malamku
Karena rekam jejakmu sulit aku hapus





Lara

Bak minum obat terpahit
Tangan - tangan ini tidak lagi mampu memperbaiki
Ah, aku gelisah
Ini tanggung jawab ku

Lara tak terkira
Saat aku tak bisa lagi memperbaikinya
Ya, salahku
Aku melimpahkan semua padaku

Biar habis lara ini
Dimuat dalam tulisan sederhana
Hiburan atas diriku
Karena tak ada lagi hiburan yang menghibur


Jumat, 30 Mei 2014

Tak Biasa

Renungan atas diri hamba
Memenuhi ujung do’a
Meminta kebaikan berbalas dari yang Kuasa
Atas diri yang masih saja alpa

Dekap iman atas yang Kuasa
Mengingati diri sebagai hamba
Dekap rindu atas cinta
Layaknya derai air dari sumbernya

Cahaya bintang pengiring gelisah
Mendadak malu akibat rasa
Dahulu biasa kini kikuk
Dahulu bersapa wajar kini menunduk

Bilamana waktunya
Yakini hati atas alirannya
Ikat diri atas komitmen
Jagalah utuh hingga menua


Cermin

Aku mematut diri depan cermin
Rangkaian huruf gambaran diri terjejer rapi
Baguskah tampilanku hari ini?
Cocokkah aku  dengan busana ini?
Setiap hari tanya itu yang muncul
Lama, aku mulai berpikir
Baguskah aku di hadapan Tuhanku ?
Baguskah ibadah yang menjadi penyicil hutang atas nikmat Allah ?
Aku, pantulan dari kaca itu kembali bertanya
Sudahkah engkau syukuri nikmatmu hari ini ?
Seolah-olah esok tak ada lagi waktu

Waktu berulang saat aku mematut diri depan cermin hari ini

Amanah yang Kedua

Lama tak menjumpaimu blog. Belakangan aku sibuk dengan tugas utamaku sebagai ibu dua anak. Tugasku kini bertambah, seiring dengan umurk...