Katakan apa yang ada
Bentak dan bentak
Salah paham
Wajah masam
Pukulan dalam dada yang tak kasat mata
Mungkin hanya lewat bibir
Tapi... rasa teriris sembilu sedalam pedih hati
Tampilkan postingan dengan label Rangkai Kata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rangkai Kata. Tampilkan semua postingan
Jumat, 15 Agustus 2014
Kau dan Pagi
Aku tak menyangka, hari-hariku dilingkupi dengan pikiran tentangmu
Tentang kau, hujan di sore itu, dan pagi
Ya, aku senang berbicara denganmu kala pagi
Saat wajah kusutmu masih terpahat di sana
Tapi, aku tersadar, kau masih di tempat berbeda
Entah kenapa pagi menjadi saat aku kembali memutar pikiran padamu
Harusnya saat itu aku lebih bergegas mengejar rezeki yang dibagikan Robb-ku
Senyum...senyum...dan menunduk
Ah, rasanya aku jadi malu pada dedaunan berembun atau
pada mentari yang mulai meninggi di ufuk timur
Aku mengaitkan logika dan rasa
Tetap saja mereka tak mau beriringan
Hei.. harusnya kalian sejalan
Tapi ini urusan yang berbeda
Perasaan dan logika punya hak tindakan mereka masing-masing
Tentang kau, hujan di sore itu, dan pagi
Ya, aku senang berbicara denganmu kala pagi
Saat wajah kusutmu masih terpahat di sana
Tapi, aku tersadar, kau masih di tempat berbeda
Entah kenapa pagi menjadi saat aku kembali memutar pikiran padamu
Harusnya saat itu aku lebih bergegas mengejar rezeki yang dibagikan Robb-ku
Senyum...senyum...dan menunduk
Ah, rasanya aku jadi malu pada dedaunan berembun atau
pada mentari yang mulai meninggi di ufuk timur
Aku mengaitkan logika dan rasa
Tetap saja mereka tak mau beriringan
Hei.. harusnya kalian sejalan
Tapi ini urusan yang berbeda
Perasaan dan logika punya hak tindakan mereka masing-masing
Selasa, 12 Agustus 2014
Kesan
Terketuk hati pada seorang pemuda
Merangkai risih laku tak tertata
Mungkin pikirnya mencatat
Aku hanyalah sekeping puzzle yang mengganggu
Tak kunjung selesai dan kemudian terlupakan
Oh, tidak, puzzle mungkin rumit
Bisa jadi aku hanyalah sepotong kenangan yang tak sengaja mampir
Tak ada yang istimewa
Tak ada kesan
Namun, harus bagaimana, dia telah meninggalkan jejak dalam pikirku
Merangkai risih laku tak tertata
Mungkin pikirnya mencatat
Aku hanyalah sekeping puzzle yang mengganggu
Tak kunjung selesai dan kemudian terlupakan
Oh, tidak, puzzle mungkin rumit
Bisa jadi aku hanyalah sepotong kenangan yang tak sengaja mampir
Tak ada yang istimewa
Tak ada kesan
Namun, harus bagaimana, dia telah meninggalkan jejak dalam pikirku
Minggu, 10 Agustus 2014
Sulit Pisah
Perpisahan, kata yang mengakhirkan pertemuan
Entahlah, tapi rasanya akan sangat menyakitkan
Itulah mengapa kadang seseorang memilih untuk tak mengucapkannya
Meskipun kemudian sesal karena tak ada kata terucap, untuk melepasnya.
Bahagia, awal pertemuan yang bahagia
Sejak kecil, imajinasi denganmu selalu membawaku pada pikiran yang tak terbatas
Ya, masa-masa kanak-kanak yang aku tahu hanya rasa bahagia mengenalmu
Hei, kau menghiburku
Jadi, jangan katakan kalau kamu hanyalah bahagian dari masa kanakku saja
Ya... aku membawamu di masa remaja yang sulit juga
Aku tak merasa lelah
Aku yakin tetap setia denganmu
Dan aku harap kaupun begitu
Tiap episode hidupmu, aku ikuti
Mungkin agak sulit melihat semuanya
Karena, batas negara kita yang membuat sulit untuk menatap secara langsung
Hmm, aku mendapati kabarmu.
Katanya kamu akan segera mengakhiri episode-episode itu?
Meskipun aku katakan jangan, kamu pun mungkin tak bisa berbuat apa-apa
Mendengar soundtrack untuk episodemu berikutnya membuatku bersedih
Ah, ya, benar, kamu semakin menua dengan pribadi dan wajah yang sama sedari dulu
Benarlah, pisah, sulit untuk aku terima
Untukmu, aku berharap, semoga tetap mengisi hidupku dengan kabar-kabar
Juga dengan episode-episode yang membuat kita tetap berjumpa
*versi ngga mau ditinggal Doraemon dan masih menanti movie-nya... Standby Me
lalu ini dia soundtracknya....dari Motohiro Hata - Himawari no Yakusoku (Doraemon Stand By Me) atau Janji Bunga Matahari
Tentang Aku dan Derap Waktuku
Mendung menemani hariku menyusuri jalan raya
Wajah - wajah gelisah di antara baris-baris kendaraan yang kian bertambah
Macet...
Plat putih masih tertempel, ah ya, ini kesan pertama membawa amanah baru
Masih, pemberian dari Bapak Ibu
Hadiah buatku
Jelas, aku sangat berterima kasih
Aku terima sebulan sebelum aku memasuki usia baru kemarin
Makin tua.
Kata-kata yang beriring doa yang tersampaikan, mengembangkan senyum di wajah lusuhku
Yah, ini karena dalam kondisi lelah bekerja
Kemarin, ada banyak pikiran yang beredar satu-satu di kepala
Dan ada juga pikiran itu yang masuk ke dalam doa yang tersampaikan sahabat
Jawabku... doakan saja yang terbaik
Aku.. masih.. belum menemukan...
Ah, mendung ini telah jadi hujan
Kemarin, hujan turun di pergantian umurku
Doa dan introspeksi
Terkabullah dan semoga kuat memperbaiki diri.
Pagi , datang hari ini
Syukur, aku masih bisa menemukan bahagia fajar, keindahan pagi, lembutnya resapan embun pada langit yang merona indah dalam kuasa-Nya
Hai, sapaanmu pagi, membelai lembut telingaku dan membawaku pada masa depan yang tak tergambarkan
Wajah - wajah gelisah di antara baris-baris kendaraan yang kian bertambah
Macet...
Plat putih masih tertempel, ah ya, ini kesan pertama membawa amanah baru
Masih, pemberian dari Bapak Ibu
Hadiah buatku
Jelas, aku sangat berterima kasih
Aku terima sebulan sebelum aku memasuki usia baru kemarin
Makin tua.
Kata-kata yang beriring doa yang tersampaikan, mengembangkan senyum di wajah lusuhku
Yah, ini karena dalam kondisi lelah bekerja
Kemarin, ada banyak pikiran yang beredar satu-satu di kepala
Dan ada juga pikiran itu yang masuk ke dalam doa yang tersampaikan sahabat
Jawabku... doakan saja yang terbaik
Aku.. masih.. belum menemukan...
Ah, mendung ini telah jadi hujan
Kemarin, hujan turun di pergantian umurku
Doa dan introspeksi
Terkabullah dan semoga kuat memperbaiki diri.
Pagi , datang hari ini
Syukur, aku masih bisa menemukan bahagia fajar, keindahan pagi, lembutnya resapan embun pada langit yang merona indah dalam kuasa-Nya
Hai, sapaanmu pagi, membelai lembut telingaku dan membawaku pada masa depan yang tak tergambarkan
Rabu, 23 Juli 2014
Tak Masalah
Ada bias gelisah di nada suaramu
Terentang rasa ingin tahu untuk mengerti apa itu
Jika bisa aku hapuskan
Jika bisa aku berikan saran
Atau...atau mungkin aku bisa membuatmu nyaman.. katakanlah
Langit malam dalam keagungannya
Aku hanya bisa menghela nafas
Aku gagal memintamu berkata-kata
Baiklah, jika gelisahmu ingin kau tutup rapat
Tak masalah, selama kau bisa membaca senyum tulus penghapus gundah
Terentang rasa ingin tahu untuk mengerti apa itu
Jika bisa aku hapuskan
Jika bisa aku berikan saran
Atau...atau mungkin aku bisa membuatmu nyaman.. katakanlah
Langit malam dalam keagungannya
Aku hanya bisa menghela nafas
Aku gagal memintamu berkata-kata
Baiklah, jika gelisahmu ingin kau tutup rapat
Tak masalah, selama kau bisa membaca senyum tulus penghapus gundah
Senin, 21 Juli 2014
Kian Pergi Ramadhanku...
Rapat aku gelarkan bait-bait kesunyian diantara malam-malam akhir
Merapal doa-doa menuju langit
Untai hikmah di balik singkat temu bulan kemuliaan
Tunduk hati-hati yang kian merubah tatkala waktu terus dalam gulirannya
Bukan deret kata memikat yang mengubah haluan
Bukan setumpuk janji yang menghantar kebahagiaan
Bukan seluas puji dalam pribadi yang mengikat keridhoan
Kadar hati dan lakulah yang menuntun ke arah paling diharapkan
Aku bukan pribadi yang senang berpisah
Temu satu dua tak lantas membuatku puas bersua
Ramadhan disaat-saat akhir perjumpaannya
Takkan rela aku berpisah dengannya
Apakah aku telah memanfaatkan jatah waktu perjumpaan kita dengan laik?
Apakah aku tergolong ummat rugi di masa ini?
Apakah hatiku telah benar pada tahap ini?
Ramadhan kian menapak pergi, akankah kita akan"sampai berjumpa" ataukah "selamat jalan selamanya"
Ramadhanku yang kian pergi. Tak aku rasakan waktu begitu cepat menggulir di hari-hariku. Menyisakan banyak tanya dalam benakku. Mengusikku dengan rasa malu yang tertatih dalam ibadahku... Aku harap kita akan "sampai berjumpa" lagi... :)
Kamis, 03 Juli 2014
Sajak Untukmu Yang Terpilih
Kata-kata menjulur sepanjang orasinya
Berbalut perhatian daripada sekeliling
Memintakan sejuta sokongan
Membungkus makna dalam kata-kata
Janji manis terpatri pahit di kening pendengar
Menggerus rasa dan logika
Sayang jika radang tak terobat
Sayang jika kata tak terbukti
Sayang jika biola yang kau mainkan dengan suara
merdu, jadi tak berdawai saat kami butuh
Lirih aku merasa risih
Sumbang suaraku, sungguh, tak mengerti
Duhai yang di sana, menolehlah saat kami memanggil
Karena sebuah panggilan sangat berharga
Jangan kira janji manis hanya kami rasa di lidah
Ia telah sampai di ruang terpisah ingatan kami
Ia terkungkung di ruang terdalam dan menolak untuk
terlupa
Juangkan apa yang telah kami suarakan
Jadikan kebaikan atas negeri yang dicinta
Kami gaungkan harapan kami pada yang terpilih
Bawalah kami percaya
Bahwa, harapan kami tidaklah sia-sia
Jumat, 27 Juni 2014
Pergi Jauh
Dan kadang kala kita menemukan hati dalam kediaman dan kesepian keadaan.
Rasa yang memuncah kemudian surut tatkala tiba pada batasnya
Namun, pengharapan atas rasa tertinggi itu adalah agar ia takkan jauh dari batas semestinya
Ia ingin selalu setia pada skala terbaik
Menghimpun kenyataan atas fakta - fakta
Merajutnya dalam bait seni terindah
Pengagungan pada sang Pencipta, pemilik ajaibnya dunia
Terbata-bata pernah berucap kata ragu
Berbicara keraguan dalam kadar tertentu
Berusaha mengerti maksud satu-satu
Meraba - raba hal terindah di masa itu
Ragu-ragu, haru biru , was-was
Jauh-jauh dari aku
Akan aku hapus kamu dari otakku
Tak ada nelangsa malam-malam bersama
Menundukkan hati
Takluk pada kuasa tertinggi atas diri
Ragu-ragu, haru biru, was-was
Sekali lagi aku ingatkan kamu
Jauh-jauh dari aku
Tak ingin aku terganggu karena kamu
Malam kini aku menyemai kasih dengan-Nya kekasih sejati
Rasa yang memuncah kemudian surut tatkala tiba pada batasnya
Namun, pengharapan atas rasa tertinggi itu adalah agar ia takkan jauh dari batas semestinya
Ia ingin selalu setia pada skala terbaik
Menghimpun kenyataan atas fakta - fakta
Merajutnya dalam bait seni terindah
Pengagungan pada sang Pencipta, pemilik ajaibnya dunia
Terbata-bata pernah berucap kata ragu
Berbicara keraguan dalam kadar tertentu
Berusaha mengerti maksud satu-satu
Meraba - raba hal terindah di masa itu
Ragu-ragu, haru biru , was-was
Jauh-jauh dari aku
Akan aku hapus kamu dari otakku
Tak ada nelangsa malam-malam bersama
Menundukkan hati
Takluk pada kuasa tertinggi atas diri
Ragu-ragu, haru biru, was-was
Sekali lagi aku ingatkan kamu
Jauh-jauh dari aku
Tak ingin aku terganggu karena kamu
Malam kini aku menyemai kasih dengan-Nya kekasih sejati
Senin, 16 Juni 2014
Paham
Jejak langkah terlampau jauh
Mengikut bayang diri dari kejauhan
Mengikut bayang diri dari kejauhan
Aku paham, jarak takkan menyatu
Aku paham, kau telah memilih
Sepahamnya aku hingga nalar tak mampu lagi protes
Daya akan hati seakan memudar
Pendaran atas jiwa yang berbahagia tiada seindah lalu
Jauh, aku tatap parasmu berlatar warna senja
Dentam jantung
Apakah kau rasa?
Meski beribu kali berpaling, sungguh
Waktu mungkin akan memudarkannya
Namun, rasa tetap ada saat bersua
Dentam jantung yang bahkan menggetarkan selingkup tubuh
Sabtu, 14 Juni 2014
Hujan
Di bawah hujan
Aku meleburkan semua rasa
Semua pikirku
Semua kegamanganku
Tetes air menyejukkan mendentam kerontangnya hati
Bahkan hingga saat ini
Logika dan hati masih memihak kepadamu
Ah, bagaimana aku memutusnya
Aku harus merelakanmu
Aku meleburkan semua rasa
Semua pikirku
Semua kegamanganku
Tetes air menyejukkan mendentam kerontangnya hati
Bahkan hingga saat ini
Logika dan hati masih memihak kepadamu
Ah, bagaimana aku memutusnya
Aku harus merelakanmu
Rabu, 04 Juni 2014
Dalam Do'a
Ya Rabb...
Pembuka takdirku
Kuatkanlah ikatan semangat hidupku
Pilihkan jalan terbaik atas kegamangan di antara pilihan-pilihan
Jalan kebahagiaan meliputi temaram dasar hati
yang rapuh tanpa bimbingan
Lalu ku hadapkan wajah pada garis takdir
Yang mewujudkan pertemuan di batas senja
Senin, 02 Juni 2014
Temukan
Tenanglah...
Di sana kau akan menemukan titik cahaya
Cahaya pencerahan pencarianmu
Lama...
Selamilah lebih lama
Selama itu kau akan menemukan ruang
Ruang yang telah lama kau miliki
Dapatkan....
Setelah kau dapatkan
Kau takkan menyangka bahwa ia sedekat itu....
Di sana kau akan menemukan titik cahaya
Cahaya pencerahan pencarianmu
Lama...
Selamilah lebih lama
Selama itu kau akan menemukan ruang
Ruang yang telah lama kau miliki
Dapatkan....
Setelah kau dapatkan
Kau takkan menyangka bahwa ia sedekat itu....
Cinta
Cinta, mengajakku dalam dekapan iman yang panjang. Atas
yakinku pada Pencipta ku , atas yakinku pada tauladan Rasul ku.
Cinta. Kata tersulit yang
pernah ada ketika aku berhadapan denganmu. Ia merasuk ke dalam sanubari
tanpa tersadari. Membisiki rindu kepada hati tak berpenghuni. Menguntai angan
akan bahagia sejoli. Cinta. Kata itu mengangkat rasaku atas kesendirian, atas
kepedihan, atas lara, menghamburkan kesedihan, mengoyak pilu.
Cinta merengkuhku dalam bait-bait syairnya. Mengantarku pada
pelataran hatinya. Menelusupkan kasih atas si pembawa hati. Si penerima takdir
atas diriku.
Cinta. Ada banyak kata yang terangkai karenamu. Engkau membawa
jari ini mengukir asa untuk diri. Melambungkanku pada bahagia atas hati
terbalas. Namun, kadang kau bagai menghempaskan seorang, kala ia tak mampu
memegang kendali atas perasaan.
Cinta, tumbuh dengan fitrahnya. Mengakar ke relung terdalam
hati. Ia subur kala disirami tepat. Namun, akan layu dan gugur kala terlupa. Ia
akan baik dalam penjagaan baik. Namun, buruk dalam penjagaan buruk.
Cinta, kau hanya sebuah kata dalam tulisanku. Tapi, ketika
kau memasuki ranah rasa. Sebanyak apapun kataku, kau tetap tak dapat ku defenisikan
dengan tepat dan fasih. Kau kata yang kurasa, kata yang melukis bahagia, kata
yang mengutuhkan aku dengan belahan jiwa, yang mengikatku pada sanak keluarga, kata
yang merangkulku pada sang Pemilik atas cinta sejati.
Minggu, 01 Juni 2014
Hujan awal Juni
Akhir kisah atas bulan Mei
Menepi batas atas sabar
Hujan bulan Juni
Menepis debu-debu tepian jalan
Kala aku tersungkur dalam lara
Entah bagaimana dan harus apa?
Jalan kurengkuh sejak dulu pergi
Mengambangkan anganku yang tak kesampaian
Risaulah hati bagai ditohok sembilu
Pilu menusuk tak tertahankan
Maaf , aku tak sanggup menanggung
Maaf , aku tak mampu mengubah
Bingkai tataan salah
Tak kuasa aku baikkan
Ah, benar salahku jua
Hujan bulan Juni , bawa aku meresapi tetesanmu
Meluruhkan sedihku
Tumpahan tangisku
Basahilah perihnya kepiluanku
Tenggorokanku tertahan kata-kata sesal
Hatiku meraung tak terdengar telinga manusia
Hujan bulan Juni
Dengan seru sang Penguasa mu
Ku mohon bawalah keajaiban layaknya di negeri dongeng
Bawalah keajaiban di nyataku
Bawalah ia penguatku atas salah yang terlampau menyedihkan
Menepi batas atas sabar
Hujan bulan Juni
Menepis debu-debu tepian jalan
Kala aku tersungkur dalam lara
Entah bagaimana dan harus apa?
Jalan kurengkuh sejak dulu pergi
Mengambangkan anganku yang tak kesampaian
Risaulah hati bagai ditohok sembilu
Pilu menusuk tak tertahankan
Maaf , aku tak sanggup menanggung
Maaf , aku tak mampu mengubah
Bingkai tataan salah
Tak kuasa aku baikkan
Ah, benar salahku jua
Hujan bulan Juni , bawa aku meresapi tetesanmu
Meluruhkan sedihku
Tumpahan tangisku
Basahilah perihnya kepiluanku
Tenggorokanku tertahan kata-kata sesal
Hatiku meraung tak terdengar telinga manusia
Hujan bulan Juni
Dengan seru sang Penguasa mu
Ku mohon bawalah keajaiban layaknya di negeri dongeng
Bawalah keajaiban di nyataku
Bawalah ia penguatku atas salah yang terlampau menyedihkan
Sabtu, 31 Mei 2014
Andai
Kadang aku tak perlu berucap
Kadang aku tak perlu berlaku
Tatap mata sudah menerjemah
Baris kata yang ingin aku ucap
Gerik diri jadi gambaran laku atas hati
Terlalu banyak cerita romantis
Terlalu banyak kisah miris hati bertepuk sebelah
Terlalu banyak rindu yang menyurat tak tebalas
Bagaimana aku menggambarkan laraku ?
Setidaknya , aku hanya memberi senyum terhangat
Senja kali ini, aku mengingatimu
Di beranda menghadap taman
Dilatari warna oranye sang cahaya senja
Menyeruput teh khas
Mengangankan tentang kita
Ah, buru-buru melupa
Kau mungkin takkan mengangankan yang sama
Senyum sendiri
Ya, senja itu
Aku menertawai diri yang terlampau menyedihkan
Kadang aku tak perlu berlaku
Tatap mata sudah menerjemah
Baris kata yang ingin aku ucap
Gerik diri jadi gambaran laku atas hati
Terlalu banyak cerita romantis
Terlalu banyak kisah miris hati bertepuk sebelah
Terlalu banyak rindu yang menyurat tak tebalas
Bagaimana aku menggambarkan laraku ?
Setidaknya , aku hanya memberi senyum terhangat
Senja kali ini, aku mengingatimu
Di beranda menghadap taman
Dilatari warna oranye sang cahaya senja
Menyeruput teh khas
Mengangankan tentang kita
Ah, buru-buru melupa
Kau mungkin takkan mengangankan yang sama
Senyum sendiri
Ya, senja itu
Aku menertawai diri yang terlampau menyedihkan
Meredam Rasa
Aku mengintip kabarmu dari pelupuk jendela
Melihatmu dari jauh
Apa kabar dirimu?
Bagaimana hidupmu?
Lancangkah aku memasuki hidupmu tanpa permisi?
Teman, aku memulai dengan pertemanan
Kala itu aku bersua biasa saja
Namun, mungkin, aku tanggapi rasa berbeda
Menegur khayalku
Aku memilih menghapus , berusaha melupa
Tapi...
Ah, biarlah aku menerka rindu lewat fajar
Menatap bahagia lewat senja
Menyampaikan do'a di sepertiga malamku
Karena rekam jejakmu sulit aku hapus
Melihatmu dari jauh
Apa kabar dirimu?
Bagaimana hidupmu?
Lancangkah aku memasuki hidupmu tanpa permisi?
Teman, aku memulai dengan pertemanan
Kala itu aku bersua biasa saja
Namun, mungkin, aku tanggapi rasa berbeda
Menegur khayalku
Aku memilih menghapus , berusaha melupa
Tapi...
Ah, biarlah aku menerka rindu lewat fajar
Menatap bahagia lewat senja
Menyampaikan do'a di sepertiga malamku
Karena rekam jejakmu sulit aku hapus
Lara
Bak minum obat terpahit
Tangan - tangan ini tidak lagi mampu memperbaiki
Ah, aku gelisah
Ini tanggung jawab ku
Lara tak terkira
Saat aku tak bisa lagi memperbaikinya
Ya, salahku
Aku melimpahkan semua padaku
Biar habis lara ini
Dimuat dalam tulisan sederhana
Hiburan atas diriku
Karena tak ada lagi hiburan yang menghibur
Tangan - tangan ini tidak lagi mampu memperbaiki
Ah, aku gelisah
Ini tanggung jawab ku
Lara tak terkira
Saat aku tak bisa lagi memperbaikinya
Ya, salahku
Aku melimpahkan semua padaku
Biar habis lara ini
Dimuat dalam tulisan sederhana
Hiburan atas diriku
Karena tak ada lagi hiburan yang menghibur
Jumat, 30 Mei 2014
Tak Biasa
Renungan atas diri hamba
Memenuhi ujung do’a
Meminta kebaikan berbalas dari yang Kuasa
Atas diri yang masih saja alpa
Dekap iman atas yang Kuasa
Mengingati diri sebagai hamba
Dekap rindu atas cinta
Layaknya derai air dari sumbernya
Cahaya bintang pengiring gelisah
Mendadak malu akibat rasa
Dahulu biasa kini kikuk
Dahulu bersapa wajar kini menunduk
Bilamana waktunya
Yakini hati atas alirannya
Ikat diri atas komitmen
Jagalah utuh hingga menua
Cermin
Aku mematut diri depan cermin
Rangkaian huruf gambaran diri terjejer rapi
Baguskah tampilanku hari ini?
Cocokkah aku dengan
busana ini?
Setiap hari tanya itu yang muncul
Lama, aku mulai berpikir
Baguskah aku di hadapan Tuhanku ?
Baguskah ibadah yang menjadi penyicil hutang atas nikmat
Allah ?
Aku, pantulan dari kaca itu kembali bertanya
Sudahkah engkau syukuri nikmatmu hari ini ?
Seolah-olah esok tak ada lagi waktu
Waktu berulang saat aku mematut diri depan cermin hari ini
Langganan:
Postingan (Atom)
Amanah yang Kedua
Lama tak menjumpaimu blog. Belakangan aku sibuk dengan tugas utamaku sebagai ibu dua anak. Tugasku kini bertambah, seiring dengan umurk...
-
Bismillah, Kali ini ikut challenge dari Blogger Perempuan, selama 30 hari menulis blog sesuai dengan topik yang sudah ditetapkan. ...
-
Merenung tertunduk pada jalannya hati Tak tahu arah membawanya berlari Riuh, sorak sorai tak peduli Berbalik arah tak mungkin lagi ...
-
Bulan baru dan serangkaian mimpi yang aku miliki Mungkin agak suram ya, tetapi awal bulan kali ini, satu mimpi yang aku usahakan terwuju...
.jpg)