Meminumnya bersama dalam waktu-waktu tertentu
Saat pagi sebelum berangkat kerja
Lalu senja saat kau tiba di rumah
Kebiasaan ini datang mungkin saja dariku
Kaupun tak pernah menanggapi mengapa aku hanya menyediakan itu
Kau tahu?
Teh yang aku seduh selalu punya rasa berbeda tiap hari
Tergantung dari gula yang aku tambahkan ke dalamnya
Tetapi, kau tahu, aku sebenarnya ingin rasanya selalu manis di lidah
Selalu hangat di tenggorokan
Dan makin kau suka tiap harinya
Aku kadang beranggapan, ah, aku ini egois
Mungkin ritual ini kadang mengganggu mu
Bisa saja kau ingin sekali minum kopi
Atau yang lain
Satu hal yang aku percayai
Teh membuat awet muda
Dan setiap kali aku menyeduhnya
Dengan bahagia, dalam do'a, diam-diam
Aku mengharap perasaan antara kita tetap muda
Tetap terjaga, atau semakin bertambah
Kadang aku tersenyum melihatmu
Melihatmu merasa agak kepanasan dengan teh itu
Meski kemudian kau ingin segera meminumnya
Kau harus menunggunya hangat
Menunggunya dengan sabar
Dan menyeruputnya perlahan-lahan
Lalu, aku kembali membawakan cokelat manis kesukaanku
Saat itupun aku juga tak menanyakan, apakah kau suka cokelat?
Katanya cokelat akan meredamkan rasa stress dan membuatmu nyaman
Cobalah, cicipi, kataku
Tersenyum dan kaupun mengangguk
Kau menyukainya?
Aku berharap kau juga merasa nyaman akhirnya
Kau tahu?
Aku menitipkan kedamaian lewat cokelat itu
Aku menitipkan pesan, agar kita merasa cenderung ingin bersama
Saling kasih mengasihi dan saling membimbing
Saling mengokohkan, untuk kemudian meraih ridho Robb yang menyatukan
Ketika saatnya aku memberikanmu keduanya
Meskipun aku tak sempat bertanya
Atau bahkan membuatmu terpaksa memakannya
Sebenarnya ada makna dibaliknya
Tetapi setidaknya,
Ketika kau alergi, baiknya
Beritahu aku, dan tolaklah dengan kata-kata yang mampu aku pahami..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar