Kelak dikemudian hari, ketika kau menemuiku, aku takkan memperlihatkan wajah muram. Wajah kesedihan saat kita berpisah. Wajah jenuh ketika kebersamaan mulai berlangsung lama. Yang ada hanya wajah berseri dipadu senyuman yang tak henti ketika mendengar ceritamu tepat saat kau kembali. Hidup membawa kita kearah yang berbeda-beda. Aku memilih jalan ini, dan berusaha berkarya di sini. Dan kaupun punya alasan mengapa kau tertarik dan akan menetap di sana lalu mengembangkan karyamu di sana.
Aku pernah bercerita padamu, tentang takdir. Berpisah dan bertemu, menangis dan tertawa, berduka dan berbahagia. Caraku menjelaskannya padamu seolah aku ingin melihat kesedihan itu berakhir dengan kebahagiaan. Ya, sepertinya kau paham. Senyuman seakan selalu merekah tiap menit ketika menyampaikan hal-hal menarik tentang kehidupan yang kita rasakan. Lalu, meneteskan air mata saat cerita membuat hati ngilu kau tuturkan.
Setiap manusia memiliki pertanggungjawaban atas diri mereka sendiri-sendiri. Begitupun aku dan kau. Meski hidup membawa kita di jalan yang berbeda. Meski kemudian, mataku tak dapat menangkap sosokmu karena jarak, dalam diam sujudku, doa itu tak henti-hentinya untukmu.
Ketika waktu yang digariskan untuk kita bertemu, tiba, aku akan menyambutmu dengan senyuman terhangat. Jika kau tak lelah, aku ingin menanyakan perihal keadaanmu dan petualangan yang telah kau lakukan di luar sana. Bertanya tentang alasan kau kembali. Bertanya tentang hal yang mungkin bisa terjalin antara kita.
Ketika narasi ini terus bergulir dalam kata-kata, jelas, saat ini kita belum berjumpa. Aku bisa saja mengenalmu sebagai seorang teman lama, sebagai seorang teman dalam kelompok yang selama ini aku ikuti, atau mungkin sebagai orang asing yang ketika kemudian pandangan tertuju, berdua, ada perasaan yang berbeda. Mungkin seperti kutipan ini "Ada kupu-kupu menari dalam perutku"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar