Kamis, 31 Juli 2014

Kakek, Umar dan Usman


Matahari masih enggan beranjak dari peraduan, tatkala seorang Kakek telah bersiap berbenah diri. Solat subuh dikerjakan, setelah itu, segelas kopi diseruputnya di beranda rumah. Tak lupa pisang goreng hangat menjadi pendamping minumannya pagi itu. Nenek sibuk mempersiapkan kue yang hendak di jual ke pasar, tempat Kakek sering mangkal bersama becak tuanya. Kakek bermaksud mengambil kue yang telah disiapkan sang Nenek, tapi kemudian dua orang anak telah menuju ke arahnya seraya menenteng tempat plastik berisi kue dagangan. Mereka adalah cucu sang Kakek pengayuh becak. Umar dan Usman. Kakek sendirilah yang memberi nama itu kepada mereka. Ia mengharapkan agar sang cucu dapat menjadi orang yang sukses dunia akhirat, sebagaimana kedua khalifah sekaligus sahabat Rasulullah dulu. Umar bin Khattab dan Usman bin Affan.
“Pagi ini, kita kemana, Kek?  tanya Umar antusias.
“Kakek akan membawa kalian menjelajah hari ini. “
“Umm, menjelajah itu apa, Kek? “
“Menjelajah adalah saat kalian pergi mencari hal-hal baru. “
“Wah, Kakek, apakah kita akan menemukan seorang pahlawan lagi, Kek? Atau…atau… ibu yang sangat baik seperti yang kita temui di pasar? Atau….atau…” belumlah habis kata Usman. Umar kemudian menimpali.
“Ah ya, aku ingin bertemu ibu itu lagi.”
“Tentu saja, aku juga ingin. Wah, aku akan mendapat setumpuk cokelat lagi hari ini”
“Asyiiik … Kakek, ayo segera kayuh becaknya, kami sudah tidak sabar…“
Sorak – sorai Umar dan Usman, menyelipkan senyuman di bibir Kakek. Segera keduanya naik ke atas becak. Duduk dengan posisi terbaik dan melambaikan tangan kepada Nenek. Hari ini, mereka akan menyusuri jalan yang sama ke pasar. Umar dan Usman selalu saja menganggap perjalanan yang mereka lewati sangat seru. Tiap hari mereka punya pertanyaan menarik, untuk kemudian Kakek harus jawab. Sikap bijaksana dan senyumnya yang terus mengambang selalu menjadi pemuas jawaban dari pertanyaan kedua cucunya, dan mereka tentu selalu mengambil pelajaran.
***
Saat melewati persawahan yang tampak siap dipanen. Mereka bertanya, mengapa padi harus merunduk ke bawah.
“Batang padi itu diciptakan berbeda dari pohon yang kita lihat selalu berdiri kokoh, cucuku.  Tapi ada yang mengibaratkan buah padi yang berisi akan semakin menunduk, dengan kerendahan hati seorang penuntut ilmu.”
“Kakek, kami tidak mengerti” jawab mereka bersamaan.
Wajah Umar dan Usman mengerut, mereka berusaha mencerna apa maksud Kakeknya. Sang Kakek kemudian menjelaskan lebih lanjut.
“Cucuku, Umar dan Usman, saat kalian sudah menuntut ilmu , mulai sekolah, kalian akan mendapat banyak pengetahuan baru. Kalian bisa mendapatkan derajat yang tinggi dari usaha kalian menuntut ilmu. Tapi, jangan karena sudah berilmu kalian jadi kikir berbagi, dan sombong. Tetapi, tetaplah jadi cucu Kakek yang rendah hati dan selalu membantu orang lain”
“Ooo…” mulut mereka membulat bersamaan.
Sambil terus mengayuh becak, sang Kakek tersenyum mendengar senandung lagu dari kedua cucunya.  Anak – anak SD yang lewat sebelah rumah sering menyanyikannya.
   Satu…satu… aku sayang ibu
   Dua..dua…  juga sayang ayah
   Tiga..tiga… sayang Kakek Nenek
   Satu, dua, tiga , sayang semuanya…

Mereka mengubah liriknya, dan menyanyikan berulang-ulang.

“Kakek, suara kami bagus, kan?”

Tanya Umar disambut oleh senyum dan anggukan oleh sang Kakek. Perjalanan ke pasar memang agak jauh. Mereka bahkan melewati daerah landasan pesawat yang hanya dibatasi jalan raya yang mereka lalui. Pernah, pesawat terbang di atas mereka, jaraknya cukup dekat, sampai –sampai roda bagian bawah pesawat yang mulai dikeluarkan, ketika pesawat akan mendarat terlihat sangat jelas.

“Kakek, kapan kita naik pesawat? “
“Iya, kita hanya naik becak terus …”
“Belajarlah dari sekarang cucuku, jangan takut bermimpi. Siapa yang tahu pesawat itu bukan hanya bisa kau tumpangi, tetapi bisa saja menjadi milik kalian. “
“Tunggu sampai kami besar ya Kek, kami akan bekerja giat dan Kakek tidak perlu mengayuh becak lagi”
“Ya, Kakek akan kami belikan pesawat”
“Ah, benar – benar. Wah, kita akan punya pesawat Umar”

Senyum itu kembali mengambang dari wajah Kakek. Kata-kata dari cucunya yang baru berumur lima tahun itu seakan-akan membawanya pada masa depan ketika mereka telah dewasa. Jika menyaksikan wajah Kakek saat itu, ada keharuan, seakan dia ingin membalas.
Cucuku, meskipun kau tidak mengatakannya, aku terus meminta agar mampu melihat kalian dewasa dan sukses di dunia dan akhirat, seperti doa yang tersirat dalam nama kalian. Umar dan Usman.  

                                           Termuat di harian FAJAR, Sahabat Anak 27 Juli 2014


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amanah yang Kedua

Lama tak menjumpaimu blog. Belakangan aku sibuk dengan tugas utamaku sebagai ibu dua anak. Tugasku kini bertambah, seiring dengan umurk...