Senin, 26 Mei 2014

Kisah Tentangmu, Sobat


Pernah, suatu malam aku bermimpi tentang keajaiban yang mungkin datang padamu. Sejenak aku duduk menatap hamparan kain putih yang menutupi kasur rumah sakit. Pembaringanmu atas penyakit yang menggerogoti dirimu. Syifa, sahabatku, kali ini kemoterapi yang kesekian kali akan engkau jalani. Aku hanya mampu menyemangatimu. Syifa, kau tahu arti namamu bukan? Ya, pengobat. Obat yang paling manjur untukmu adalah semangat yang terus ada darimu. Ingat suatu kali kau menghiburku dari kegundahan atas nilaiku yang jeblok saat ujian.
“ Kana, aku adalah Syifa, kau tahu arti namaku bukan? Ya, pengobat. Ayo, baca basmalah   bersama, kemudian aku obati kegundahan hatimu dengan syairku”.

Aku hanya mampu mengembangkan senyum dan akhirnya tertawa riang dengan candaanmu. Memang, saat –saat sulitku kau selalu ada menyertai. Seiring waktu, aku ingin menemanimu, menjadi pengobat, paling tidak menjadi orang yang pertama menjadi pelipur kala kau sedang berduka, dan menjadi yang pertama bergembira kala berbahagia. Satu hari , kita pernah berdebat tentang tokoh yang kita tonton bersama kawan yang lain.

“ Aduh, kenapa ia tidak dengan si pria yang baik itu. Coba bayangkan pengorbanan yang    sudah diperbuatnya. Tetap saja bertepuk sebelah tangan “ kataku dengan wajah kecewa.

“Iya betul, aku sependapat” seorang teman mendukung.

Saat itu kau hanya tersenyum dengan gelagat kami. Aku tahu, kau pasti ingin berkata  
     
 “Hei, ini hanya drama, terserah dari si sutradara ingin mengarahkannya kemana.”
Atau mungkin

“ Aduh, kalian mendebat masalah yang tidak penting”.

Tapi ternyata apa aku bayangkan berbeda. Dengan senyum berarti, kau membuka suara.

“ Itulah yang namanya melepaskan untuk membahagiakan. “

“ Maksudmu?” aku menoleh penasaran.

“Dari cerita ini, kalian mengambil pelajaran. Kalau cinta kadang tak bersambut sebagaimana kemauanmu. Ia datang dengan tiba-tiba dan menyerobot masuk membawa rasa suka, tapi tak pernah selalu berhasil menyerobot ke target yang kamu jatuhkan rasa suka. Lihat saja ending ceritanya. Kalian pasti akan lebih termehek-mehek karena pengorbanan si pria bertepuk sebelah tangan itu. Tapi, di sisi lain ia akan bahagia karena melihat orang yang dijatuhinya rasa suka itu, berbahagia. “

Ah, aku bahkan berusaha mencermati kata-katamu. Kau sudah seperti pengamat atau bahkan telah jadi pakar dalam urusan perasaan.  Atau mungkin karena keseringan mendiskusikan tentang tokoh pria yang bertepuk sebelah tangan, kau sibuk mencari referensi dan menyusun penjelasan. Apa yang aku pikirkan terjawab.

“ Syifa penjelasanmu minggu lalu ada benarnya.”

“ Bagian yang mana?”

“Mmm, bagian yang kami akan lebih termehek-mehek pada bagian ending cerita. “

Dengan senyum, kau berkata

“Tentu saja, aku tahu bagian endingnya akan seperti itu. Kau tahu Lani, kan? Dia sudah menontonnya sebelum kita. Dan ketika itu ada kuliah bersamanya, sambil menunggu dosen , dia bercerita panjang lebar tentang drama yang baru kita tonton minggu lalu. “

Menepuk jidat, ah, aku tertipu. Tampangku yang cemberut dibalasnya dengan kalimat.

“ Tapi jangan salah, pendapatku itu asli loh.”

“ Ya, memang tidak diragukan, sobat “ aku mengangguk –seakan memahami maksud seluruh penjelasannya tempo hari.

            Sahabatku, takkan habis pembahasan tentang dirimu. Betapa kau begitu perhatian, bahkan kau rela mendengarkan keluhan tidak jelas dariku. Apakah kamu bosan? Setidaknya itu yang selalu menghinggapi pikiranku setiap aku mulai bercerita panjang lebar. Tak diragukan, kau memang pendengar yang baik. Tapi, aku pernah sangat membencimu. Kau tahu, paling tidak berceritalah tentang masalah yang sulit kau hadapi. Kebencianku memuncak ketika kau baru memberitahuku tentang sakitmu itu. Jika aku tahu sejak awal, aku takkan mengajakmu bercapai-capai jalan kaki saat kita pulang kuliah kala senja. Aku takkan memaksamu untuk duduk berjam-jam mengoreksi tulisanku yang acak-acakan. Dan bahkan aku takkan membiarkanmu kedinginan di bawah hujan saat mengejar waktu untuk kuliah penting hari itu. Aku sungguh egois, tidak memperhatikan semua gejala-gejala sakit , akibat tingkahku. Sampai akhirnya, aku mempertanyakan mengapa kau selalu mimisan dan berwajah pucat.

            “ Apa aku harus jujur?”

“ Tentu saja. Aku memang bukan sahabat yang baik buatmu selama ini, dan mungkin aku bukan pendengar yang baik, tapi paling tidak, bisa kau jelaskan kondisi kesehatanmu akhir-akhir ini.  Mungkin perasaanku saja, tapi memang aku merasa ada rahasia yang ditutupi olehmu.“

“ Aku menikmati hidupku, Kana. Mungkin sebentar. Tapi benar , aku sangat menikmatinya. “

            Tatapan lurusmu pada langit , membuatku merasa kau akan segera pergi jauh. Ah, tidak aku tidak ingin berpikir tentang hal menyedihkan itu.

            “ Kana, aku divonis kanker. Hmm, dan katanya sudah stadium akhir.”

            Air mata yang berusaha kubendung mengalir tak tertahankan.  Label wanita tegar takkan aku pakai hari ini. Kabarmu, sudah melumatkan jantungku dan sungguh sakit, kawan.

            Hari ini aku mengamatimu, dengan wajah pucat itu, kau masih terlihat manis. Kerudung yang kau pakai hari ini adalah kesukaanmu. Kerudung merah muda dengan rajutan bunga sakura di sudutnya. Bahkan hari ini pun kau menunjukkan kesyukuranmu, ucapan pujian kepada sang Pencipta terdengar dari mulutmu. Surah Ar Rahman mengalun dari Mp3 handphone milikmu. Aku menikmati lantunannya bersamamu. Hari itu, terakhir kali kau mau menjalani kemoterapi. Dan seminggu kemudian, tepat saat mengakhiri ujian skripsi, aku mendapat berita duka darimu. Dan ketika itu ingatan akan pembicaraan kita hari itu terkuak.

            “ Kau tahu mengapa aku membenci mobil putih itu?”

            “Maksudmu ambulance?”

            “Ya.”

            “ Kenapa? Ada yang salah?”

            “ Mobil itu akan mengantarku pada perpisahan untuk selamanya”

            “ Ah, Syifa , jangan ngawur kamu. “

            “Hmm, tapi, aku takkan bersedih dengan perpisahan itu. Karena, selangkah aku bisa
              meraih harapanku menemui sang Pencipta. Ah, aku akan berusaha sebisaku.”

            Mengapa aku tak menanggapi kata-katamu dengan serius saat itu dan mulai bertanya-tanya. Memang sepertinya label sebagai wanita tak sensitif memang cocok buatku. Do’a dari tiap orang yang menyayangimu semoga mewujudkan harapanmu itu. Benar saja, hari itu, mobil putih dengan sirene nyaringnya, mengantar dirimu pada peristirahatan menuju keabadian. Dan aku, takkan lupa.

“ Dengarkan, dan bacalah pedoman hidup kita, Al Qur’an. Dalam surah Ar- Rahman, kau pasti akan tertegun dengan banyaknya nikmat yang pasti takkan kamu dustakan. Allah selalu adil dan pengaturannya akan kehidupan kita adalah pengaturan yang terbaik.”

                                                                                                   14 Mei 2014
                                                                                                   Oleh : Haruka Mufarrihah
           

2 komentar:

Amanah yang Kedua

Lama tak menjumpaimu blog. Belakangan aku sibuk dengan tugas utamaku sebagai ibu dua anak. Tugasku kini bertambah, seiring dengan umurk...