Pete-pete adalah transportasi
umum yang digunakan di kota maupun di desa oleh warga Sulawesi Selatan.
Pete-pete sendiri adalah mobil mikrolet yang dibuat sedemikian rupa dengan
bangku memanjang di sisi kanan kirinya. Biasanya pak supir akan menambah satu
kursi kecil di dekat pintu pete-pete. Buat nambahin penumpang. Biasanya bangku
memanjang dekat pintu, mampu diisi sampai emapat orang dan yang sebelahnya
mampu diisi sekitar enam sampai tujuh orang. Itulah sekilas tentang pete-pete.
Jika datang ke Makassar kalian harus mempelajari tiap pete-pete berikut
kode-kodenya. Tiap pete-pete akan melewati jalur sesuai kode yang mereka
miliki. Walah ribet ya… ^_^.
Mengenai asal usul nama pete-pete untuk mobil mikrolet angkutan umum ini saya juga kurang tahu. Tapi akan segera diselidiki. Hehehe…
Mengenai asal usul nama pete-pete untuk mobil mikrolet angkutan umum ini saya juga kurang tahu. Tapi akan segera diselidiki. Hehehe…
Sebagai anak asli Maros ,Sulawesi
Selatan, menaiki pete-pete adalah hal yang biasa. Ceritanya , saya juga ingin menggalakkan
sadar untuk naik angkutan umum sekaligus berbagi rezeki dengan Pak supir. Sistematikanya, ya, kita numpang
dan akhirnya bayar. ^_^
Kadang teman-teman kuliahan bilang, kenapa saya ngga bawa motor saja. Saya tahu mereka mungkin prihatin dengan keadaan saya yang tinggal di Maros dan kuliah di Makassar yang setiap kuliah pagi harus lari-lari supaya tidak terhitung absen di catatan dosen. Saya hanya santai menjawab, soalnya saya selalu punya jemputan (alias: pete-pete), atau bilang ngga dapat izin dari Bapak. Ya, Bapakku yang super sekali, sangat mengedepankan yang namanya keselamatan. Apalagi, kita tahu volume kendaraan di Makassar sudah bejibun. Alasan lain adalah, ada segelintir orang yang kurang menaati peraturan lalu lintas. Mereka menyerobot semena-mena, balapan, bahkan ngobrol dengan dua motor yang saling bersisian (pasti pernah liat, kan? ). Aduh, kan bisa singgah ngobrol dulu sambil nge-es teler di pinggir jalan, kan banyak tuh penjual es teler dengan berbagai merek warung A sampai Z. Ya , begitulah, sebenarnya ini menyangkut soal kesadaran pengguna jalan. Kan, bukan hanya mereka yang menggunakan jalan raya, namun banyak orang dengan skill membawa kendaraan yang bermacam-macam. Pembahasan kembali ke pete-pete.
Kadang teman-teman kuliahan bilang, kenapa saya ngga bawa motor saja. Saya tahu mereka mungkin prihatin dengan keadaan saya yang tinggal di Maros dan kuliah di Makassar yang setiap kuliah pagi harus lari-lari supaya tidak terhitung absen di catatan dosen. Saya hanya santai menjawab, soalnya saya selalu punya jemputan (alias: pete-pete), atau bilang ngga dapat izin dari Bapak. Ya, Bapakku yang super sekali, sangat mengedepankan yang namanya keselamatan. Apalagi, kita tahu volume kendaraan di Makassar sudah bejibun. Alasan lain adalah, ada segelintir orang yang kurang menaati peraturan lalu lintas. Mereka menyerobot semena-mena, balapan, bahkan ngobrol dengan dua motor yang saling bersisian (pasti pernah liat, kan? ). Aduh, kan bisa singgah ngobrol dulu sambil nge-es teler di pinggir jalan, kan banyak tuh penjual es teler dengan berbagai merek warung A sampai Z. Ya , begitulah, sebenarnya ini menyangkut soal kesadaran pengguna jalan. Kan, bukan hanya mereka yang menggunakan jalan raya, namun banyak orang dengan skill membawa kendaraan yang bermacam-macam. Pembahasan kembali ke pete-pete.
Sebenarnya tulisan ini ingin
mengarah pada pengalaman saya yang selama bertahun-tahun naik pete-pete.
*Halah. Menyusuri jalan pergi Maros-Makassar, pulang Makassar-Maros. Sudah
banyak kisah yang tertorehkan*hihihi. Mulai dari tidur pulas sampai akhirnya
lewat jauh dari pasar tempat saya mengambil pete-pete ke rumah, diturunkan di
tengah jalan karena penumpangnya tersisa saya seorang dan pak supirnya sudah mau
balik ke rumah, sampai kemudian saya mesti menunggu Bapak menjemput di Sudiang,
Makassar karena kehabisan ongkos pulang. * curhat …
Karena banyaknya ini saya akan
bagi-bagi segmen semampu saya. Itupun kalau alurnya tidak membosankan Anda
pasti akan tetap membacanya. ^_^
Kisahnya seperti ini. Hari itu
saya memiliki kegiatan yang disebut sekolah menulis yang diadakan oleh
organisasi yang saya cintai , sayangi dan banggakan.. Forum Lingkar Pena …^_^
Dan seperti biasa, rute yang
harus saya tempuh dengan mobil sewa yang gonta-ganti alias pete-pete, bermula
dari rumah ke pasar Batangase. Kemudian, di pasar ambil pete-pete Maros-Sudiang
yang tidak berkode. Turun depan Kehutanan Sudiang dan naik pete-pete jurusan
Sentral kode D ,yang khas dengan garis ungu yang melekat di dasar warna biru
pete-pete. Terakhir, turun depan pintu satu kampus untuk ambil pete-pete kampus. Nah, kejadiannya
di pete-pete kode D yang menuju ke Sentral. Selain saya, ada beberapa penumpang
yang ikut naik. Seorang perawat, anak kecil dan seorang ibu yang sepertinya bekerja
sebagai karyawan swasta. Nah, si ibu karyawan swasta ini berpesan pada pak
supir.
“ Dek, singgahki dulu di depan
kantorku yang di depan sana nah, sebentar ji. “
Dengan pengharapan sebentar ji itu
sang supir bilang
“ Iye, cepat maki bu, jangan lama-lama
kasian penumpang yang lain”
Sesampai di depan kantor yang
dimaksud, si ibu pun turun, dan meyakinkan sekali lagi bahwa ia hanya sebentar.
Dengan sabar, kami para penumpang ikut menunggu. Selang 10 menit si ibu belum
juga muncul , dan sepertinya si mbak perawat lagi buru-buru. Ia kemudian turun
lalu ambil pete-pete lain tetapi dengan tujuan yang sama. Si adek yang sedari
tadi juga sabar nunggu mulai gelisah begitu pun saya, bukan main ini sudah 10
menit lebih. Akhirnya kami berdua mengikuti jejak si mbak perawat turun dari
pete-pete dan membayar secukupnya. Dan pada akhirnya si supir hanya
ngomel-ngomel dan tetap menunggu kepastian kedatangan sang ibu karyawan swasta
ini. Setelah naik pete-pete lain, saya masih kepikiran sama pak supirnya
akankah ia bertemu dengan si ibu itu ? ataukah ia menyerah dan meninggalkannya?
*seakan-akan reality show.
Adalagi satu peristiwa yang unik.
Pernah tidak melihat pete-pete yang mutar balik gara-gara ada yang ketinggalan.
Saya sudah merasakannya, kawan. Kejadiannya masih di hari yang sama, tapi ini ketika saya
pulang dari sekolah menulis. Pete-pete ini mengambil muatan yang berlokasi di
sekitar pasar Batangase, Maros. Arahnya menuju ke desa-desa bagian dalam tempat
saya tinggal. Biasanya Pak supir hanya ada di pasar sampai selesai magrib
sekitar jam 7 malam. Suatu keajaiban
kalau pete-pete masih berkeliaran jam 8 malam di pasar itu. Alhamdulillah, saya
masih mendapatkan pete-pete kloter terakhir yang menunggu penumpang. Dari yang
awalnya saya duduk berhadapan pintu, sampai akhirnya saya lengser dan duduk di
pojok. *nasib. Penumpang berdatangan, dan akhirnya pete-pete overload. Dan yang
buat saya khawatir adalah ketika pete-pete mulai jalan, ia seperti tergopoh-gopoh
membawa penumpangnya.
“Kriik…kriiik. “
Bunyi ini berasal dari bagian belakang
pete-pete, maklum biasanya pete-pete yang beroperasi di pasar ini, sudah berusia lanjut, hanya saja dipoles-poles biar tampilannya kinclong. Di tengah jalan sudah ada penumpang yang
turun. Alhamdulillah, leluasa akhirnya , batinku berucap. Tetapi tiba-tiba.
“Aduh saya lupaki ambil
Eskuline–ku di toko tadi padahal sudah saya bayar.” Kata seorang ibu pada teman
seperjalanannya.
Cek percek Pak supirnya dengar.
“ Ih, jadi bagaimanami, Bu? Mauki
ambil? Bisaji saya putar lagi. “ kata pak supir.
“ Kalau bisa jaki, tapi penumpang
lain ia tawwa, nda buru-buru jaki de’?” Tanya ibu itu sambil menatap kepada saya dan penumpang lain. Dan saya hanya mengangguk.
Pas pak supirnya mau mutar, ada
seorang ibu yang kurang menyadari hal itu.
“ Ih, mauki kemana ini Pak supir
?”
“ Mau mutar dulu , Bu, ambilki
nasi kuningnya ini ibu yang ketinggalan”
Kebayang, kan, gimana tawa kami
meledak gara-gara pak supir ini.
Sesampainya di pasar kembali, si
ibu turun dan mengambil si Eskuline di toko. Dalam perjalanan pulang. Seorang
ibu bertanya,
“ Ih . malam mingguki pale di’.
Nda pergiki malam minggu kita pak supir?”
Pertanyaan ini lumrah saja, melihat Pak supirnya juga masih muda. Lalu, si Pak supir menjawab.
Pertanyaan ini lumrah saja, melihat Pak supirnya juga masih muda. Lalu, si Pak supir menjawab.
“ Iye ada janjiku ini, na
terlambatma juga”.
Dalam hati, saya tertawa dan berusaha menyimpulkan.
Oh, mungkin karena pikiran pak supir lagi di tempat janjian akhirnya dia pun kurang memperhatikan.
Begitu juga saat saya membayar, uang lima ribu rupiah yang harusnya dikembalikan seribu rupiah, menjadi dua ribu rupiah ditangan saya.
Oh, mungkin karena pikiran pak supir lagi di tempat janjian akhirnya dia pun kurang memperhatikan.
Begitu juga saat saya membayar, uang lima ribu rupiah yang harusnya dikembalikan seribu rupiah, menjadi dua ribu rupiah ditangan saya.
“ Pak seribu pi uang ta ini”
Malah dia nambah seribu. Akhirnya
saya kasih yang dua ribu dan bilang kalau yang benar kembalian saya sisa seribu
rupiah. Hehehe.
Ada-ada saja ya. Bisa dibilang sangat banyak kisah
tentang pete-pete yang bukan hanya saya miliki namun orang lain juga pasti
memilikinya. Untuk itu, simpanlah kisah itu baik-baik, kita tidak akan tahu kan, sampai kapan pete-pete ini akan tetap ada… ^_^
Maros,
18 Mei 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar