Sabtu, 14 Juni 2014

Hujan

Di bawah hujan
Aku meleburkan semua rasa
Semua pikirku
Semua kegamanganku
Tetes air menyejukkan mendentam kerontangnya hati
Bahkan hingga saat ini
Logika dan hati masih memihak kepadamu
Ah, bagaimana aku memutusnya
Aku harus merelakanmu

Rabu, 04 Juni 2014

Dalam Do'a


Ya Rabb...
Pembuka takdirku
Kuatkanlah ikatan semangat hidupku
Pilihkan jalan terbaik atas kegamangan di antara pilihan-pilihan

Jalan kebahagiaan meliputi temaram dasar hati
yang rapuh tanpa bimbingan
Lalu ku hadapkan wajah pada garis takdir
Yang mewujudkan pertemuan di batas senja

Pete-Pete part II

Pete-pete menjadi transportasi satu-satunya yang bisa menolong kala Bapak tidak bisa mengantar. Hehehe....Setiap pagi, saya harus masuk kerja tepat waktu, namun tetap harus menunggu sabar sampai ada pete-pete yang lewat. Kadang harus menunggu sampai 10 atau 15 menit, maklum pete-pete yang menjadi angkutan desa memiliki jadwal yang tidak tentu. 

Pagi itu seperti biasanya saya menunggu di pinggir jalan, dan sekitar 10 menit, sudah ada pete-pete yang bersedia mengambil penumpang. Suara musik andalan pak Supir menjadi teman di perjalanan 15 menit menuju sekolah tempat bekerja. Biasanya lagu yang diputar adalah lagu dangdut khas , seperti bang Rhoma, atau lagu Bugis-Makassar khas Sulawesi Selatan. Tapi, kali ini, suara bang Ebit G. Ade telah mengalun beriring suara mesin dari pete-pete. 

Sampai kemudian di lagu " Titip Rindu Buat Ayah ". 

Dimatamu masih tersimpan Selaksa peristiwa
Benturan dan hembasan terpahang dikeningmu
Kau nampak tua dan lelah keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah .... hmmm hmmm ...

Meski nafasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin syarat
Kau tetap bertahan
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari

Kini kurus dalam terbungkus hmmm
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia

Ayah dalam hening sepi kurindu
Untuk menuai padi milik kita
Namun kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu banyak menanggung beban ho ho

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari
Kini kurus dalam terbungkus hmmm
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia

Bapak, ya, pikiranku tertuju kepada beliau. Bapak yang selama ini mati-matian menjaga kami keluarganya. Bapak yang kerja banting tulang untuk menyekolahkan kami. Bapak yang selalu menjemput saat tidak ada lagi pete-pete saat saya  pulang terlambat dari kampus saat itu. Sekarang , ketika mulai bekerja , saya mulai sedikit merasakan bagaimana kepenatan Bapak di kantor. Keluhan, Bapak tidak pernah mengeluarkan kata-kata keluhan. Ketika sedang capek pun, beliau hanya pergi ke kamar lalu tidur , tanpa harus menyampaikan keluhan-keluhan atas pekerjaannya yang melelahkan. 

Pagi saat itu, sesampai di tujuan , lagu itu pun selesai. Hehehe, waktunya pas. Pete-pete pagi ini, mengantarkan kerinduan pada Bapak. Orang tua yang paling berharga di setiap tahap kehidupanku. Membayangkan beliau akan beranjak tua segera, meneteslah air mata. 

Jika dipertanyakan masalah hati ...

Pada orang yang mencintai dalam diamnya. Meskipun mungkin petuah-petuah telah membuat ia makin menutup diri atas khayal yang tinggi. Namun, tetap saja hati takkan bisa berbohong. Pasti, saat bertemu orang yang disukai perasaan jadi kurang menentu. Jantung deg-degan, salah tingkah, bahkan kadang marah tidak jelas. Saya tidak memungkiri hal itu, dan saya kira semua orang telah mengalaminya. ^_^

Saya senang mengutip, dan men-share kata-kata Bang Tere Liye,  dalam akun facebooknya soal hati dan rasa suka. Penjelasan saya lebih banyak mengarah ke kesimpulan atas apa yang saya pernah baca.

Ketika ada rasa suka sebaiknya jangan diumbar-umbar , kita takkan tahu apakah ia akan bertambah atau berkurang seiring dengan waktu. Setiap hari bilang "cinta" tapi tidak ada keseriusan ke pelaminan, sama saja dengan memberi harapan palsu alias PHP kepada si penanti cinta.

Hmm, jatuh hati memang rumit, dan hati bukanlah halte tempat persinggahan. Hati bisa diumpamakan seperti bendungan. Ia tidak dapat dibuka sembarangan. Jika sembarangan bisa saja menimbulkan bahaya.

Kesabaran dalam penantian saya rasa lebih baik, dan lebih membuat kita terhormat. Memendam perasaan sangat sulit ( saya akui ), tapi kemudian ketika saya berpikir bahwa saya akan mendapatkan yang baik atas penantian dan perbaikan diri, maka kesabaran itu seperti manisan kapas yang hanya terasa sebentar dimulut tapi tetap terasa manis.

Yakin pada Allah, bahwa yang baik akan berjodoh dengan yang baik dan begitupun sebaliknya. Tentu saja hal ini takkan tertukar. Mintalah pada Allah jodoh terbaik dari sisi-Nya seraya berusaha membaikkan diri dalam penantian.



Senin, 02 Juni 2014

Temukan

Tenanglah...
Di sana kau akan menemukan titik cahaya
Cahaya pencerahan pencarianmu
Lama...
Selamilah lebih lama
Selama itu kau akan menemukan ruang
Ruang yang telah lama kau miliki
Dapatkan....
Setelah kau dapatkan
Kau takkan menyangka bahwa ia sedekat itu....

Cinta

Cinta, mengajakku dalam dekapan iman yang panjang. Atas yakinku pada Pencipta ku , atas yakinku pada tauladan Rasul ku.

Cinta. Kata tersulit yang  pernah ada ketika aku berhadapan denganmu. Ia merasuk ke dalam sanubari tanpa tersadari. Membisiki rindu kepada hati tak berpenghuni. Menguntai angan akan bahagia sejoli. Cinta. Kata itu mengangkat rasaku atas kesendirian, atas kepedihan, atas lara, menghamburkan kesedihan, mengoyak pilu.

Cinta merengkuhku dalam bait-bait syairnya. Mengantarku pada pelataran hatinya. Menelusupkan kasih atas si pembawa hati. Si penerima takdir atas diriku.

Cinta. Ada banyak kata yang terangkai karenamu. Engkau membawa jari ini mengukir asa untuk diri. Melambungkanku pada bahagia atas hati terbalas. Namun, kadang kau bagai menghempaskan seorang, kala ia tak mampu memegang kendali atas perasaan.

Cinta, tumbuh dengan fitrahnya. Mengakar ke relung terdalam hati. Ia subur kala disirami tepat. Namun, akan layu dan gugur kala terlupa. Ia akan baik dalam penjagaan baik. Namun, buruk dalam penjagaan buruk.


Cinta, kau hanya sebuah kata dalam tulisanku. Tapi, ketika kau memasuki ranah rasa. Sebanyak apapun kataku, kau tetap tak dapat ku defenisikan dengan tepat dan fasih. Kau kata yang kurasa, kata yang melukis bahagia, kata yang mengutuhkan aku dengan belahan jiwa, yang mengikatku pada sanak keluarga, kata yang merangkulku pada sang Pemilik atas cinta sejati.

Minggu, 01 Juni 2014

Hujan awal Juni

Akhir kisah atas bulan Mei
Menepi batas atas sabar
Hujan bulan Juni
Menepis debu-debu tepian jalan
Kala aku tersungkur dalam lara
Entah bagaimana dan harus apa?
Jalan kurengkuh sejak dulu pergi
Mengambangkan anganku yang tak kesampaian
Risaulah hati bagai ditohok sembilu
Pilu menusuk tak tertahankan

Maaf , aku tak sanggup menanggung
Maaf , aku tak mampu mengubah
Bingkai tataan salah
Tak kuasa aku baikkan
Ah, benar salahku jua
Hujan bulan Juni , bawa aku meresapi tetesanmu

Meluruhkan sedihku
Tumpahan tangisku
Basahilah perihnya kepiluanku
Tenggorokanku tertahan kata-kata sesal
Hatiku meraung tak terdengar telinga manusia

Hujan bulan Juni
Dengan seru sang Penguasa mu
Ku mohon bawalah keajaiban layaknya di negeri dongeng
Bawalah keajaiban di nyataku
Bawalah ia penguatku atas salah yang terlampau menyedihkan

Amanah yang Kedua

Lama tak menjumpaimu blog. Belakangan aku sibuk dengan tugas utamaku sebagai ibu dua anak. Tugasku kini bertambah, seiring dengan umurk...