Kamis, 03 Juli 2014

Sajak Untukmu Yang Terpilih


Kata-kata menjulur sepanjang orasinya
Berbalut perhatian daripada sekeliling
Memintakan sejuta sokongan
Membungkus makna dalam kata-kata
Janji manis terpatri pahit di kening pendengar
Menggerus rasa dan logika
Sayang jika radang tak terobat
Sayang jika kata tak terbukti
Sayang jika biola yang kau mainkan dengan suara merdu, jadi tak berdawai saat kami butuh

Lirih aku merasa risih
Sumbang suaraku, sungguh, tak mengerti
Duhai yang di sana, menolehlah saat kami memanggil
Karena sebuah panggilan sangat berharga
Jangan kira janji manis hanya kami rasa di lidah
Ia telah sampai di ruang terpisah ingatan kami
Ia terkungkung di ruang terdalam dan menolak untuk terlupa

Juangkan apa yang telah kami suarakan
Jadikan kebaikan atas negeri yang dicinta
Kami gaungkan harapan kami pada yang terpilih
Bawalah kami percaya

Bahwa, harapan kami tidaklah sia-sia

Sabtu, 28 Juni 2014

Hafiz Qur'an


Membayangkan bagaimana generasi-generasi Muslim-Muslimah kelak.
Tak berhenti aku meminta agar mereka mampu menggenggam agama ini dalam kemajuan
Aku benar-benar terharu melihat santri-santri penghafal Al Qur'an di tv. Umur mereka berkali lipat di bawahku tapi mereka mampu menghafalkan kalam Allah dengan bangga dan (Masyaallah) sungguh lancar. Tiap menyaksikan tayangannya, aku selalu mengucap agar kelak, saat Allah menitipkan jagoan kecil untukku atau muslimah manis, yang aku mampu mendidiknya agar cinta Al Qur'an sama seperti yang kusaksikan.Ia melampaui Ibu Bapak nya dalam kebaikan dan takwa. Ah..sungguh aku ingin berkata..

Nak, rasanya ingin aku peluk kalian satu-satu. Sungguh aku pun jadi malu mendengar hafalan kalian. Aku juga ingin demikian. ^_^

Ada bahkan di usianya yang menggenap 4 tahun, ia akan segera menamatkan 30 juz hafalan. Aku...raut wajahku, entah, yang aku rasa sekujur badanku merinding. Melihat usiaku, hmm, tapi tak ada kata terlambat. Siapkan diri, dimana ada kemauan di situ ada jalan. ya Robbi, rahmati kami....

Kalau Aku...

Malam,
Seharusnya aku menderetkan banyak kisah
Aku berpikir, banyak hal yang menjadi prasangka yang tak terduga mampir di kepala
Sebuah pencitraan yang membuat jengah dan akhirnya melukai diri sendiri
Setidaknya tidak melukai orang lain.
Tapi apakah ini yang kamu mau? Tidakkah kamu ingin tampil apa adanya saja? Bukan untuk menjadi insan yang selalu ingin dinilai tampilan luarnya saja. Sedang di hati meraung-raungkan pemberhentian atas sikap.
Jika Allah subhanahu wa taala tak menutup aib diri, niscaya setiap insan takkan mampu mendekati dan membaui laku yang kian membusuk terlampau lama.

Aku pada diriku, berkaca kian tak percaya, bisakah aku merasa bahagia. Bertemu orang yang bisa melengkapi hidupku dan menasehatiku kala aku butuh. Tertawa dengannya dan menceritakan hal yang ingin aku ungkapkan tanpa batas antara kami. Ia menjadi penyemangatku kala aku telah lelah dengan diriku sendiri.
Aku tahu kamu takkan mampu memenuhi rasa ingin tahu orang dengan seluruh penjelasan yang kamu punyai.
Kamu takkan mampu membahagiakan tiap insan yang kamu temui ditiap fase perjalanan singkat yang kita lampaui bersama.
Aku ingin kamu mengenaliku dengan apa adanya aku. Tanpa laku yang berubah, dengan niat kepemilikan ikhlas karena saling melengkapi dan menuntun ke arah ridho-Nya.
Jauh, aku merasa.
Tiada lain dan tiada lagi, jelas sekali aku hanya bergantung pada penetapan-Nya dalam lingkar takdirku. Tiap detik tiada ragu. Merubah diri menjadi insan yang selalu mendekatkan diri dalam cinta sang Pencipta. Aku hanya sebiji dari hitungan seluruh pasir di pantai. Di atasku masih banyak hamba yang lebih baik takwanya, ibadahnya, lakunya, ikhlasnya. Aku sungguh rendah, tak berarti apa-apa jika aku menjauh dari-Nya.



Kamu, yang memasuki kehidupanku. Kiranya mungkin kamu kenal aku dalam kebahagiaan dan keceriaan. Namun, harus kamu tahu. Aku masih memiliki sepotong rasa egois, sepetak kecemburuan, segelas rasa iri, dan keinginan manusia dengan dasar hawa nafsunya.
Tetapi, usahaku mengarahkan diri, cemburu agar mampu memperbaiki diri, lebih baik. Egois karena menginginkan waktu lebih banyak dengan-Nya. Iri karena ingin jadi hamba keren , sekeren Khadijah, Aisyah, Fatimah, sahabat-sahabat Rasulullah, dan orang-orang yang mendekap iman ini, Islam ini, dengan istiqomah hingga ruhnya meninggalkan raga. Mereka berbahagia dengan imannya.

Dambaku, aku tak ingin hanya sekedar ingin. Bantu aku mendorongnya hingga titik terdalam agar ia tak bosan-bosan mengejar-ngejar cinta Robbnya. Langit temaram berhias cahaya gemintang, detak-detak jarum jam mengantar ke sepertiga malam. Kuhantar doa bagi dia yang tak aku tahu siapa  yang sedia saling melengkapi, bagi mereka yang masih di jalan juangnya untuk iman di hati, dan untukku yang masih bergulat dan ingin istiqomah tetap menjulurkan kesediaannya atas aku yang tak berdaya.

Dalam keheningan malam Ramadhan, merindui yang terindukan, meresapi cinta sang Pencipta, mengecap syukur atas nikmat tiada tara. Ahlan wa sahlan Ramadhan.... ^_^



Jumat, 27 Juni 2014

Pergi Jauh

Dan kadang kala kita menemukan hati dalam kediaman dan kesepian keadaan.
Rasa yang memuncah kemudian surut tatkala tiba pada batasnya
Namun, pengharapan atas rasa tertinggi itu adalah agar ia takkan jauh dari batas semestinya
Ia ingin selalu setia pada skala terbaik
Menghimpun kenyataan atas fakta - fakta
Merajutnya dalam bait seni terindah
Pengagungan pada sang Pencipta, pemilik ajaibnya dunia

Terbata-bata pernah berucap kata ragu
Berbicara keraguan dalam kadar tertentu
Berusaha mengerti maksud satu-satu
Meraba - raba hal terindah di masa itu
Ragu-ragu, haru biru , was-was
Jauh-jauh dari aku
Akan aku hapus kamu dari otakku

Tak ada nelangsa malam-malam bersama
Menundukkan hati
Takluk pada kuasa tertinggi atas diri
Ragu-ragu, haru biru, was-was
Sekali lagi aku ingatkan kamu
Jauh-jauh dari aku
Tak ingin aku terganggu karena kamu
Malam kini aku menyemai kasih dengan-Nya kekasih sejati

Sabtu, 21 Juni 2014

Sekedar Cerita Si Kakak dan Si Adik


Ide-ide mulai menautkanku pada tulisan panjang. Rasanya ia ingin segera kutuangkan sebelum rasa malas kembali melingkupiku. Netbook yang telah menemaniku selama empat tahun belakangan menjadi tempat curahan hati. Memori data D dipenuhi dengan tulisan-tulisanku. Semuanya aku jadikan satu sarang agar kemudian aku tidak bingung mencari kemana mereka semua.  Maklum, banyak di antaranya tidak jelas kapan akan kelar ,sebagian lainnya menunggu komentar dari kawan terpercaya, lalu sebagian lainnya rencana ingin aku kirimkan ke media. Berharap satu di antara sekian yang aku kirimkan bisa terbit.

“Kak ! Air udah mendidih tuh”

Uh, rasanya aku ingin menghilang sejenak meninggalkan rutinitas pekerjaan rumah. Huwa… bagaimana tulisanku bisa selesai.

Ratapku dalam hati, dan selalu demikian. Andai saja aku mampu meminjam alat Doraemon, permintaanku itu bisa saja jadi kenyataan. Aih, tak berhentinya imajinasiku ini. Kenyataan mulai memaki karena aku terlalu larut dengan khayalku yang canggih. Pernah juga satu kali, aku ingin sekali memiliki pintu kemana saja. Mau tahu kenapa? Ini semua gara-gara rasa iri pada seorang teman. Ia mulai mengunggah foto-fotonya di setiap belahan dunia tempat ia memijakkan kaki.

“Oh, China…”

Status terupdatenya saat itu. Dengan memajang foto saat ia menapaki tangga di tembok China yang super legendaris. Lalu berikutnya, Thailand. Foto-fiti saat wara-wiri di sekitaran pasar Thailand sana, menikmati perjalanan di pasar apung Thailand. Sungguh bikin nyesek. Yang paling nyesek, seorang teman telah umroh. Muka mupeng karena pengen. Ya Robb, saya kapan ya ? -_-

Ya, begitulah nasib seorang pecinta travel yang tidak punya banyak rupiah. Hanya bisa mendam rasa dan nunggu tabungan pas buat jalan. Oya, jangan jadikan rasa iri itu membuatmu menjadi berlaku negative sama yang jadi sasaran ke-iri-anmu. Jadikan ia sebagai pendorong buat cita-cita yang masih kamu usahakan. Aku biasanya mikir, masa mereka bisa aku ngga’. Tapi kadang ucapanku itu nangkring di otak saja gara-gara, ya, malas itu tadi. Jadi sebisa mungkin hindari si malas itu ya ,Nak. Dia ngga sungkan membuat kamu nyesal dan hilang kesempatan. Jangan ulangi kesalahan yang sama, Nak.*berasa jadi Emak..hihihi…

Kembali soal tulisan. ^_^

Bisa dibilang saya pecinta seni sejak kecil. Dari SD dapat juara lomba nyanyi dan puisi (Tidak maksud pamer ya pemirsa). Karena kemudian saya memilih hengkang dari dunia tarik suara, karena lebih mengedepankan menjaga aurat (suara) saya. Dan…tada… menulis menjadi kegiatan rutin melepas penat, sakit hati, kesepian, sampai dari bahagia ke bahagia pake banget dan banget.

“Ih, nih kakak, dibilangin juga, tuh air dah mendidih dari tadi. Dimarahin Emak, Didin ngga tanggung jawab loh”
“Iya… iya.. sabar.. orang sabar disayang Alloh adik manis.”
“Bilangin sabar ama airnya tuh kak, dari tadi udah pada demo pengen keluar dari panci gara-gara kepanasan”

Udah dongkol kali adik saya yah, akhirnya dia mengucurkan kata-kata seperti itu. Saya, hanya cengengesan dan berlalu meninggalkannya yang geleng-geleng kepala. Baru kelas 5 sekolah dasar, kelakuannya lebih baik (mungkin) ketimbang saya dan berlagak kayak orang dewasa.  Suatu hari saya nonton tv sama dia.

“Kak, ganti channel dong”
“Ngga ah, lagi seru nih, tuh kan Barbie udah mau ketemu pangeran tuh”
“Dasar tontonan anak perempuan”
“Kamu bilang apa tadi?“
“Kan kakak perempuan, tontonan andalannya Barbie. Nah kalau perempuan dan masih suka Barbie sudah betulkan kalau dibilangin dasar anak perempuan. Soalnya hanya anak perempuan yang suka sama Barbie. Tapi, tunggu, kakak ini masih kategori anak-anak apa bukan ya? Umur setahun lagi dua puluh masalahnya”

Merasa disindir, geser kursi, matiin tv, dan angkat kaki. Benar-benar jengkel tingkat tinggi.

“Ckckck, benar, kakak masih kayak anak-anak, ngambekkan, manyun pula”
Si adik nyalain tv lagi. Pas lagi serunya. Mati lampu.
“Yah, mati lampu. Ah, padahal Tsubasa mau nendang bolanya ke gawang”
Nungguin si listrik nyala, si adik ngitung sampai sepuluh. Hitungan sepuluh lampu sudah menyala lagi.
“Kakak dari mana? “

Waduh, dia ngeliat, padahal ini lagi ngendap-ngendap ke kamar.

“Habis dari teras, tadi. Kenapa?” jawabku agak jutek.
“Maafin Didin, kayaknya gara-gara gangguin kakak tadi, akhirnya Didin juga kena balasan”

Beuh, ternyata dia menyadari.

“Dimaafin, kan, Kak?”
“Mm” jawabku seraya mengangguk.
“Jangan di ulang ya”

Kata-kataku dibalas anggukan oleh si adik. Dalam hati rasa tidak enak mulai menyerang. Benarlah pikiran sebagai kakak yang licik nempel di jidat. Tidak tahu saja adikku kalau aku yang mengerjainya dengan mematikan kilometer lampu (ngga tau nama resminya apa) di teras. Kelakuan…ckckck… jangan di contoh ya… hehehe…


Nyambung lain kali ^_^

Senin, 16 Juni 2014

Paham

Jejak langkah terlampau jauh
Mengikut bayang diri dari kejauhan
Aku paham, jarak takkan menyatu
Aku paham, kau telah memilih
Sepahamnya aku hingga nalar tak mampu lagi protes
Daya akan hati seakan memudar 
Pendaran atas jiwa yang berbahagia tiada seindah lalu
Jauh, aku tatap parasmu berlatar warna senja

Dentam jantung
Apakah kau rasa?
Meski beribu kali berpaling, sungguh
Waktu mungkin akan memudarkannya
Namun, rasa tetap ada saat bersua
Dentam jantung yang bahkan menggetarkan selingkup tubuh 

Minggu, 15 Juni 2014

Surat untuk Bapak

Kepada Bapak Tercinta

Sekian usiamu kini , namun aku belum mampu membuatmu merasa bangga. Ketika ada kesulitan Bapak yang selalu pertama menolong. Bapak tidak pernah mengeluh akan apa yang dikerjakan. setiap apa yang diberikan untuk kebaikan anak istri.

Bapak pasti paling tahu, anak gadisnya ini sangat suka dengan bintang sejak kanak. Sampai kini, ketika dibonceng Bapak saat malam hari, bapak sengaja melambatkan motor, membiarkanku menikmati pendaran cahaya bintang di sepanjang jalan menuju desa, tempat tinggal kami.

Bapak, sebagai seorang anak, saat ini hanya bisa berdo'a kepada sang Pemegang kebahagiaan atas hidup, moga Bapak senantiasa berbahagia, senantiasa diridhoi Allah. Setiap pagi menciumi punggung tanganmu tanda pamitku untuk beraktifitas, saat itu juga aku makin bersyukur karena diberi seorang Bapak yang mengerti anak gadisnya.

Amanah yang Kedua

Lama tak menjumpaimu blog. Belakangan aku sibuk dengan tugas utamaku sebagai ibu dua anak. Tugasku kini bertambah, seiring dengan umurk...