Sabtu, 30 Agustus 2014

Inang dan Benalu

Benalu merambat inang yang kian melemah
Menggerogoti sendi kesakitan yang kian parah
Dalam dendang kesedihan 
Terselip pilu, menohok kalbu

Bengis mengundang tangis 
Amarah menaikkan darah 
Memompa hingga ke ubun-ubun dan pecah 
Merembes luka ke dalam sanubari lewat beling kata-kata dan laku

Aku tak menafikkan adanya rindu 
Rindu kedamaian yang terkubur sejak perang ini sekian lama
Rintih tak lagi tabu, ia terdengar dibalik tembok lindungan 
Wajah-wajah mungil menghias kepedihan 

Tidakkah mereka terlalu dini merasakan ini
Hempasan kata perang yang terus menerus
Merampas hak mereka mendapatkan sekolah dan penghidupan 
Kau tahu benalu itu terus merenggut sari pati inang
Meski lelah inang tetap berharap dapat bangkit dan merdeka 

*Pengharapanku pada Gaza yang damai, semoga ijabah....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amanah yang Kedua

Lama tak menjumpaimu blog. Belakangan aku sibuk dengan tugas utamaku sebagai ibu dua anak. Tugasku kini bertambah, seiring dengan umurk...