Selasa, 20 November 2018

Day 1 : Kenapa Nulis Blog ?



Bismillah, 

Kali ini ikut challenge dari Blogger Perempuan, selama 30 hari menulis blog sesuai dengan topik yang sudah ditetapkan. Semoga istiqomah nulisnya dan tentu saja, bisa bermanfaat bagi yang membacanya. 

Topik hari pertama adalah mengenai alasan "kenapa nulis blog?". Berikut beberapa alasan saya :

1. Penasaran 

Kalau diingat lagi, awalnya nulis di blog karena penasaran. :D

Saya mulai mengikuti sebuah forum kepenulisan, yaitu Forum Lingkar Pena saat masih mahasiswa. Dari sini, saya banyak menemukan teman-teman yang aktif menulis dan menuangkan tulisannya di blog pribadi. Tidak hanya itu, mereka juga aktif mengikuti lomba menggunakan blog yang mereka miliki. Walhasil, saya juga terpengaruh. Hehe

Akhirnya tahun 2014, selepas kuliah dan makin aktif dalam dunia organisasi kepenulisan, saya memutuskan membuat akun di blogger dan satu lagi di tumblr. 

Di blog inilah, saya menuliskan beberapa karya, mengikuti lomba, juga curhat. :D


2. Menyimpan Karya dan Kenangan

Saya biasa menulis diary dalam sebuah buku dan juga menuliskan beberapa karya di sana. Pada akhirnya, pengen juga membuat sebuah buku digital milik pribadi dan akhirnya membuat blog. Karya yang menurut saya layak dibaca orang saya posting dalam blog. Curhatan yang samar-samar, saya juga masukkan dalam blog dalam bentuk puisi maupun cerpen. 


3. Mengasah Kemampuan Menulis 

Pada dasarnya saya tipe orang yang nulis seadanya.Hehe... 

Gampang bosan untuk melanjutkan cerita, jadinya belum mampu membukukan sebuah novel. Cerpen saja kadang butuh waktu sebulan untuk diselesaikan. Tergantung mood. #takpatutdicontoh

Nah, kalau dalam blog, saya usahakan pokoknya harus nulis panjang lebar. Berusaha mengembangkan cerita yang saya buat. Jadinya draf pada numpuk. :D

Tapi, beneran deh, nulis di blog mempengaruhi kemampuan saya untuk meramu kalimat-kalimat panjang yang numpuk di kepala. 


4. Biar Eksis

Hehee... sebenarnya saya bukan orang yang mau nampil depan publik, jadi banyak hal yang saya simpan di kepala dan sulit terucap. Akhirnya menulis jadi solusi buat saya dan pemikiran saya bisa saya tuangkan apa adanya tapi tetap selaras dengan norma-norma. 


Nah, quote di atas juga jadi penyemangat, mana tahu kan kita jadi eksis lewat tulisan, meski mungkin kita sudah di alam yang berbeda. 

5. Niat dakwah

Segala sesuatu yang saya lakukan, saya niatkan untuk ibadah. Meski saya mungkin belum mampu untuk menyampaikan lewat lisan, namun, saya berharap mampu menyampaikan kebaikan lewat tulisan yang saya share. Itulah mengapa saya selalu mengatakan, jika menulis berusahalah memberikan manfaat.


Sepertinya itu saja alasan mendasar, kenapa saya nulis blog. Saya juga baru nyadar :D

Semoga bermanfaat

Senin, 05 November 2018

Menjadi Ibu dan 1000 Hari Bersamamu Hingga Kini



Tahun 2016 , alhamdulillah putra pertama kami lahir dengan selamat. Meskipun pada awalnya, saya ragu jika akan melahirkan normal karena berat badan yang over. Tapi, pada akhirnya bidan yang menangani saya waktu itu, terus memberikan dorongan dan semangat. Dari sinilah, saya mulai belajar, bahwa kenaikan badan saat hamil itu memang wajar, namun tetap harus dalam keadaan terkontrol. Jika tak ingin naik berlebihan, hindari makan malam yang berlebihan. Ah, saat itu saya sering kelaparan tengah malam, dan sesudah makan rasa kantuk menyerang, walhasil belum cukup dua jam, saya sudah lelap. 

Setelah lahiran, masalah lain datang. Saya tidak bisa memberi Asi sebanyak ibu lainnya. Rasanya sedih sekali. Asi saya hanya keluar beberapa tetes dan dalam waktu lama, sementara si bayi sudah kehausan. Saya berupaya untuk tetap menyusui dan dibantu dengan obat pelancar asi. Sehari, bayi saya masih bisa bertahan, namun esok harinya tepatnya dini hari, ia tak berhenti menangis hingga mulai membiru. Akhirnya saya merelakan dia minum susu formula dengan cara disendokkan ke mulutnya. Mengapa pakai sendok? Agar si bayi tidak bingung puting. Tetapi, selain susu formula, saya tetap berupaya menyusuinya. Dan di hari ketiga, dengan menggunakan pompa manual, asi saya mulai banyak keluar, namun tetap tak mencukupi kebutuhan si bayi. Susu formula tetap bersanding dengan asi yang saya berikan. Hal ini berlangsung selama tiga minggu. Sampai suatu hari, karena -teledor mengangkat beban berat,  saya panas dingin tiga hari dan normal kembali di hari kelima. Menjadi pejuang asi itu bukanlah hal yang mudah bagi sebagian orang. Jadi, berbahagialah jika mampu meng-asi-hi anak dengan baik. Fase pertama untuk pemberian makanan terbaik si bayi, akhirnya gagal untuk saya lakukan. :(

Memasuki usianya yang ke enam bulan. Saya banyak berdiskusi dengan Mama dan Ibu mertua tentang makanan yang baik untuknya. Awalnya saya memberikan makanan bayi instan, lalu menggantinya dengan makanan yang biasa kami makan di rumah. Nasi dicampur dengan berbagai lauk dan sayur, dihaluskan sampai layak cerna oleh si anak. Si anak kadang makan lahap, kadang juga dilepeh saja. Mungkin karena dia sudah kenyang minum susu dan akhirnya enggan untuk makan.

Menginjak usianya yang hampir 7 bulan, ia menderita DBD. Ingat sekali, saat itu di hari ketiga dia demam, dia nampak baik-baik saja dan tidur dengan pulas. Tetapi pada dini hari, ia nampak lemah dan selalu berteriak kesakitan. Akhirnya kami membawanya ke rumah sakit dalam keadaan ia tertidur. Di cek suhu tubuhnya, anggota tubuh lain seperti mata dan mulutnya pun di periksa. Saat itu juga sample darahnya diambil dan di cek di laboratorium. Beberapa jam diketahuilah kalo ternyata si anak menderita DBD. Dia diopname selama lima hari, bersama empat orang balita lainnya yang memiliki sakit bermacam-macam. Sedih sekali elihat dia menangis sejadinya ketika darahnya diambil, namun harus bagaimana, hal itu harus dilakukan. Di saat inilah berat badannya menurun.

Setelah semuanya berlalu, alhamdulillah, ia tumbuh menjadi anak yang begitu lincah, meskipun belum terlalu lancar berbicara. Usianya kini dua tahun lebih, saya mengharapkan ia menjadi anak sholeh yang tumbuh sehat, cerdas dan berbudi mulia. :)


Si anak saat masih umur 1 tahun :)


Rabu, 05 September 2018

Asian Games 2018, Putri dan Peraih Emas


Asian Games kali ini menurut saya sudah sukses diselenggarakan di Indonesia. Sehari-hari saya juga sibuk menyaksikan perlombaan yang ditayangkan di beberapa stasiun televisi. Kebetulan saya menyukai olah raga yang berbau bela diri, macam karate, taekwondo, dan pencak silat. Kebetulan pak Suami juga pernah jadi atlet karate. Dan gara - gara mas Jacky Chan dan Donny Yen alias Mr. wing chun saya betah banget nonton film yang adanya mereka. Eh, termasuk Jet li dan Andy Lau juga ya. :D

Balik lagi ke Asian Games. Hehe
Paling senang banget , saat tau peraih medali emas pertama ternyata dari taekwondo dan cewek pula. beuh... Defia Rosmania... Atlet ini pernah ikut pelatihan di Korea langsung selama seminggu. Namun, ternyata saat di sana, ayahnya meninggal dunia. Keinginan ayahnya melihat Defia mendapatkan juara mungkin tidak terlaksana, namun, bangsa Indonesia menjadi saksi dan menyaksikan kemenangan Defia. 

Lalu, emas kedua dari Wushu, dan yang dapet ternyata putri lagi. Lindswell Kwok, bukan hanya kali ini dapat emas, dia udah menang Sea Games tiga kali dan juga juara dunia empat kali. Amazing. 

Puspa Arumsari menjadi pesilat putri yang meraih emas pertama kali di cabang pencak silat. Lalu disusul oleh Sarah Tria Monita untuk nomor tarung. Lalu, di nomor pencak silat seni ganda putri Ayu Wilantari dan Ni Made Dwiyanti. Dari regu Pramudita, Lutfi dan Gina. Trus, ada Pipit Kamelia di kelas tarung 60-65 kg. 

Kalo dihitung-hitung jumlah medali yang diraih oleh para srikandi olahraga ini, banyak. Baru dari cabang bela diri loh ini, belum yang lain. Bangga banget jadinya, apalagi usaha mereka dibalas dengan hadiah yang istimewa. 

Semoga atlet kita makin sejahtera agar mereka makin termotivasi untuk makin berprestasi. Terima kasih untuk segala usaha terbaik kalian semua... so proud.. :)


Maros di cuacanya yang mendung nyenengin :D

#1minggu1cerita#AsianGamesIndonesia2018

Rabu, 20 Juni 2018

Menggapai

Loy Krathong Chiangmai 2 by Marty Johnston, via Flickr

Sebuah usaha untuk menggapai apa yang dicita-citakan. Sebuah upaya membuat diri lebih baik dari hari sebelumnya. Hari ini saya mulai mengikuti kelas "bengkel diri" yang dikelola oleh Ummu Balqis. Hari ini adalah pelaporan hari pertama untuk tugas harian. Saya yang masih ribet urus waktu untuk mengerjakan hal-hal tertentu, berusaha sebaik mungkin mengerjakan apa yang menjadi kewajiban saya sebagai mahasiswa di perkuliahan online ini... Heheh

Sebenarnya kangen sekali dengan suasana menuntut ilmu di kelas-kelas perkuliahan. Namun, apa daya, persiapan saya belum matang untuk mengambil beasiswa. Sebagai ibu satu anak dan masih sangat baru di dunia kerumahtanggaan, keriweuhan mengatur keuangan juga hal yang utama. Jadi, nabung-nabng untuk ikut kelas Toefl dan IELTS masih berlangsung sampai saat ini, meskipun prioritas sudah berubah :D

Apa sih pencapaian yang ingin kita lakukan dalam hidup ini? Kok, hidup kita lempeng aja? Kok, mereka bahagia banget ya, jadi pengen juga kayak gitu. Sering kali pertanyaan ini mampir di kepala. dan untuk menjawabnya untuk saya sendiri butuh perenungan panjang. 

Saya menyedari, beberapa hal yang saya lalui di fase hidup saya, adalah hal yang keliru. Bukan menyenangkan hati saya, justru hanya untuk menyenangkan orang lain. Saya juga sempat kehilangan arah, dan bingung ingin mengerjakan atau fokus dibidang apa. 

Lalu, muncul kelas bengkel diri tersebut. Dua pendaftaran lewat, saya akhirnya ikut diangkatan ketiga. Harapan saya, semoga saya bisa menemukan hal terbaik yang bisa saya lakukan, fokus dengan itu, dan tak lupa makin mendekatkan saya pada Allah subhanahu wa ta'ala. 

Harapan baik semoga berbuah manis 


Kawazoe 

Maros, 20 Juni 2018


#1minggu1cerita#curcol#ibuluarbiasa

Sabtu, 28 April 2018

Take another opportunity

 Sunset in Autumn 

Memandang kehidupan orang lain adakalanya membuatmu bahagia. Namun, kemudian ada saatnya kamu mulai membanding-bandingkan. Hidup itu penuh dengan pilihan, tidak semua orang memiliki pilihan yang membuatnya berbahagia hingga akhir hayatnya. Ada mereka yang bertahan dengan pilihan yang membuat orang lain bahagia, namun membuatnya sungguh kepayahan. Ada juga yang merasa telah memilih yang benar, tapi ternyata dari sudut pandang orang lain, pilihan itu justru membunuhnya perlahan-lahan. 

Kita manusia biasa, yang memiliki rasa, kadang dalam kebahagiaan yang bertambah-tambah, atau dalam kesedihan yang memilukan. Tapi, inilah kehidupan, tak ada yang bisa berbuat lebih jika tak ada ujian dahulu.  

Biasanya saya menyebut berbagai kelemahan saya dihadapan suami, tapi dia membalas dengan lelucon yang menurut saya tidak lucu. Dia kemudian menjelaskan, sama halnya denganku yang menerangkan tentang keburukanku dan menjelaskan tentang kebaikan orang lain dihadapannya, Katanya itu tak layak jadi pembicaraan kami berdua. Aku adalah aku, yang mengenal baik diriku adalah dia yang terdekat denganku. Meski kadang soal perasaan dia tak selalu peka dengan apa yang aku rasakan. Yang bisa memperbaiki diriku adalah aku sendiri. Dan aku baru tahu, menjelaskan mengenai orang lain yang menurutku ada kemajuan dalam hidupnya kepada suami itu sebenarnya ngga boleh. Well, mari hentikan :D

Jangan melabeli diri dengan hal-hal yang menyedihkan. Buat diri kita tetap positive dengan mengangkat hal-hal baik yang kita punya. Belum lagi Allah udah kasih banyak kebaikan, mulai dari kesehatan, tubuh yang lengkap, pasangan hidup, anak-anak dan banyak lagi. 

Bulan ini aku memutuskan menghentikan aktivitasku di suatu tempat. Rasanya udah lama mendam rasa tidak enak di sana. Lalu, sekarang mencoba memilih tempat baru yang ramah padaku dan anak, tentu saja juga ramah akan waktu luang. Ini soal kerjaan ya :)

Makasih untuk semua yang aku follow di sosial media, yang menyumbangkan energi positif untukku dalam hidup ini. Kuat-kuat aku ditempat baru jika memang di terima, semoga aku menemukan apa yang aku cari di sana. Tarbiyah, persaudaraan yang benar-benar tulus dan juga kebaikan lainnya. 

sekian curhatnya :D


Kawazoe
28 April 2018

#curhat#1minggu1cerita

Minggu, 18 Maret 2018

Senja Yang Berbeda

pic:pinterest

 
Aku bukanlah orang yang memiliki segudang pengalaman. Bukan pula orang yang memiliki percaya diri yang tinggi. Aku juga terlalu malu dengan apa yang aku tak bisa lakukan. 

Setidaknya aku bukanlah orang yang membenci diri sendiri. Aku berusaha menjadi dan mencintai apa yang aku miliki. 

Sore itu masih sama. Samar tapi penuh makna. Aku berada di seberang jalan tanpa nama. Menatap jauh ke arah mu dalam lingkaran orang-orang yang tak ku kenali. 

Kakiku beranjak menjauh. Tanpa ada tanda maupun isyarat yang kusimpan untukmu. Sama halnya dengan senja, meski kau tak melihatku disuatu waktu, aku tetap ada.

Terima kasih untuk senyum sekilas di wajahmu yang nampak lelah. Meski aku tahu itu bukanlah untukku. Tentu, tak sepadan hal itu dibagikan untukku

Hari berganti bulan, lalu tahun mulai terhitung. Berbalik arah darimu saat senja kala itu , membawaku pada hari yang tak disangka kini. 

Kata manis, teh hangat dan setumpuk harapan tertata dalam genggaman tanganmu yang tak terhalang apapun. Sebuah kekuatan ajaib Pencipta kita membuat takdir yang tak dapat kubaca sebelumnya.

Jumat, 09 Maret 2018

New Life

pic: tangled from pinterest
Kehadirannya yang membuatku sedikit demi sedikit berubah. Aku adalah tipe wanita yang menyimpan perasaan namun mudah ditebak. Sedari dulu, aku menutup segala celah apapun yang membuatku tergoda memiliki pasangan sebelum menikah, istilahnya pacar ..hehe.. 

Teman-teman di sekelilingku juga merasa khawatir, apakah aku adalah perempuan normal? Atau pernahkah aku menyukai seseorang? Ah, ini pertanyaan lumrah bagi seseorang yang memilih sendiri sampai waktu yang tak diketahui kapan. Setidaknya sampai menerima lamaran dari orang yang dianggap tepat. Isilahnya jomblo until halal , yes. 

Mengenai pertanyaan itu, tentu aku jawab dengan tenang. Ya, aku gadis normal yang pernah suka seorang pria, patah hati diam-diam, dan tentu suka itu hanya sebagai tepukan sebelah tangan yang seiring waktu hilang dalam hati dan menjadi kenangan dalam memori. 

Pernah merasa kesepian? Mm... saya memiliki (alhamdulillah) banyak teman, adik-adik yang jahil, juga Bapak dan Ibu tempat curhat. Dan sepertinya saya tipe orang yang bisa jadi introvert di satu waktu dan ekstrovert di tempat lain. wkwkwk... Saya kadang egois dengan waktu sendiri. Maksudnya lebih sering mengerjakan sesuatu dengan baik jika sendiri, nulis diary di pojokan kamar, kadang sibuk dengan drama dan anime yang saya tonton sendiri. Lalu, di organisasi, saya aktif di organisasi kepenulisan, meski tak memiliki bakat khusus, entah kenapa saya lebih senang menyendiri dan menulis. Pada saat sekolah menengah saya rajin menulis cerpen dan memasukkannnya di mading sekolah. Kini juga aktif di sosial media (aktif baca kabar orang ding :P ). Meskipun kadang jenuh dengan saya yang lupa waktu karena scroll sana sini -_-

Setelah berkecimpung di kegiatan yang kadang unfaedah, saya paling merindukan yang namanya tarbiyah. Alhamdulillah, dari sinilah saya mendapat prinsip  saya itu. Yang awalnya masih memikirkan lelaki ala-ala pangeran disney bergeser mengingat hapalan Al Qur'an saya  yang terbata-bata atau amalan harian yang masih bolong-bolong. Yang awalnya mengeluh sana-sini , belajar buat syukur tapi  teteup keluhannya ditulis dalam diary. wkwkw... Itulah healing paling sempurna. Nulis pake tangan sendiri.. :D

Back to him. Dia adalah lelaki yang kini menjadi pasanganku ( insya allah until jannah), ayah dari anak-anak kami. Suatu keajaiban dan pengaturan terbaik dari Allah tentang bagaimana cara mempertemukan kami. Dua orang yang beda (banget) dan dalam waktu singkat menjadi kekasih.

Dia berusaha membimbing dan memberitahu juga mengingatkanku pada hal yang tidak perlu dikerjakan. Berupaya menafkahi dengan sebaik-baiknya dan menyayangi dengan cara yang ia bisa. Bisa dibilang dia tipe yang banyak mengerjakan atau membuktikan dari pada bicara panjang lebar. Kalau aku? Hihihi...

Bersama dengannya sekarang banyak sekali hal yang harus ditata ulang. Dalam hal ini mulai dari kebiasaan di masa lalu ketika masih sendiri, pengaturan keuangan, makanan yang ada dalam kulkas, tempat tinggal yang harus dirawat dan sebagainya. Apalagi, alhamdulillah sekarang seorang anak lelaki, dititipkan pada kami untuk dijaga dalam kasih sayang. Aku masih dalam perubahanku menjadi lebih baik, dan semoga semakin baik. 

Amanah yang Kedua

Lama tak menjumpaimu blog. Belakangan aku sibuk dengan tugas utamaku sebagai ibu dua anak. Tugasku kini bertambah, seiring dengan umurk...