Selasa, 12 Desember 2017

Kisah Tentang Rupiah

                                           
Rupiah, mata uang yang setia menemanimu dikala belanja. Rupiah juga setia menunggu dalam dompet yang kamu bawa. Pun, rupiah adalah perantara untukmu mendapatkan cita yang kamu damba. Mulai dari kamu lahir hingga di hari senja, rupiah menjadi bilangan perantara yang akan memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Mencintai rupiah adalah bagian dari kecintaan terhadap Indonesia. Mata uang yang kita usahakan keberadaannya sendiri dan dipertahankan hingga kini. Tidakkah kamu merasa bangga akan itu? Aku menghargai keberadaan rupiah. Meski kadang dalam beberapa keadaan ia bisa saja tak hadir sama sekali. Awalnya saya begitu menyia-nyiakannya sebab menurutku rupiah itu gampang didapat, tapi pada kenyataannya orang tuaku cukup bersusah payah untuk mencukupkan rupiah yang kami gunakan sehari-hari. Lalu, pada akhirnya tumbuh kesadaran bagiku untuk mencintai rupiah dengan menyimpan sebaik-baiknya, menyatukan ketika ada yang sobek, lalu menabung uang receh yang ada. 

Orang tuaku telah berdagang selama 20 tahun di toko kecil kami di depan rumah. Kami menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari, mulai dari makanan, bumbu dapur dan lainnya. Suatu ketika, seorang pembeli datang dengan membawa pecahan lima ribu rupiah ke toko kami, dengan keadaan digulung. Lima ribu rupiah itu nampak lusuh dalam genggaman tangannya. Selesai si pembeli ini memilih barang yang diinginkan ia kemudian memberikan uang tersebut. Tanpa memeriksanya saya langsung memasukkan ke tempat rupiah yang dikumpulkan ibu. Saat itu saya sedang terburu-buru dan akhirnya kurang memperhatikan. Tak lama ibu yang beraa di toko memanggil saya. Beliau mengatakan jika ada uang lima ribu yang sobek dan hanya sebelahnya saja. Aku memperhatikan uang itu dan benar saja itu adalah lima ribu rupiah yang saya terima tadi. Saya kemudian meminta maaf pada ibu karena tidak memeriksa uang itu sebelumnya. Ibu hanya mengingatkan agar saya lebih teliti lagi. Hemm… ada ya orang yang tega berbuat begitu. Gunakan rupiah sebaik-baiknya dan jangan buat ia menjadi alat untukmu menipu orang lain. 
 
Pernah juga saat SMA, sepulang sekolah, dompet yang ku bawa ternyata jatuh di tengah jalan saat berjalan mencari angkutan umum. Saat ada angkutan umum yang datang saya langsung naik bersama beberapa teman dan seorang guru. Di perjalanan seperti biasa saya sibuk mengobrol bersama teman di sebelah saya. Lalu, saat dekat dari lorong rumah, saya sibuk memeriksa tas untuk mengambil uang dalam dompet. Supir yang mengetahui dimana saya turun, kemudian memberhentikan kendaraannya di depan lorong. Saya yang kehilangan dompet hanya menjelaskan jika dompet saya hilang dan saya tidak dapat membayar. Saat inilah mimpi tentang turun hujan rupiah dari langit saya harapkan terjadi. Tapi belum selesai dengan penjelasan yang saya sampaikan, ibu guru yang duduk di dekat supir langsung mengatakan kalau beliau yang akan membayarkan ongkosnya. Rasanya ingin melompat, saya sungguh berterima kasih. Saya berjanji akan mengganti tapi beliau menolaknya.

Hal yang membahagiakan tentang saya dan rupiah adalah ketika saya menerima gaji pertama. Saya memberikan semuanya pada ibu. Rasanya bahagia bisa memberikan sejumlah rupiah pada orang tua meski tak banyak. Lalu, di hari-hari berikutnya, rupiah yang saya dapatkan dari bekerja sebagai operator sekolah bisa saya bagi ke adik- adik. Untuk mereka jajan atau membantu membeli peralatan sekolah. 

Hari-hari berikutnya ketika kini telah berumah tangga dan menjadi seorang ibu. Saya harus mampu mengatur rupiah yang diberikan suami maupun yang saya dapatkan dari pekerjaan saya sebagai pengajar. 

Dan pada akhirnya, saat memiliki rupiah, bijaklah menggunakannya. Berbagilah jika kamu memilikinya dalam jumlah lebih. Lalu, jangan disalahgunakan jika memang tidak dapat lagi digunakan untuk alat transaksi. Hal itu akan sangat merugikan orang lain. Aku cinta rupiah dan berharap dapat berbagi bagi yang benar-benar membutuhkan kehadirannya. Bersyukurlah dengan keberadaan rupiah yang dititipkan Allah padamu kini. ^_^

Kawazoe (Tina)
Maros, 12 Desember 2017

#cintarupiah #berbagirupiah



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amanah yang Kedua

Lama tak menjumpaimu blog. Belakangan aku sibuk dengan tugas utamaku sebagai ibu dua anak. Tugasku kini bertambah, seiring dengan umurk...