Aku masih duduk di atas
gundukan pasir yang tersimpan di halaman rumah. Menatap sendu pada langit , dan
mengingat-ngingat teman bermain yang dahulu menemani.
“ Ayah dulu, jika siang begini,
berlari ke lapangan . Kadang kala mengejar teman yang sibuk bermain sepeda,
sementara layangan hendak diterbangkan di atasnya”
Ayah, suatu kali berbicara , masa
kecil yang lucu dan selalu terkenang. Saat tetangganya menangis karena kue
tanah yang dibuatnya bersama anak perempuan lain di kata rasanya tak enak oleh
si anak lelaki yang berperan sebagai pencicip makanan.
“Ayah, apakah aku juga boleh
meminta sesuatu?”
“Apa itu nak?”
“Teman-temanku memiliki Ipad atau tidak mereka memakai hape , Ayah. Aku juga mau seperti Ipad
Nandar, atau Ayah beli hape baru yang lebih canggih seperti hape ayahnya Dito. Jika
bermain bersama mereka , saya hanya menontonnya memainkan game. Tidak seru.”
Komplain pada ayah. Yah, itulah
yang aku lakukan. Permainan kami tak seseru dulu, teman-teman sibuk dengan
teknologi yang dipegangnya.
Ayah hanya menjawab pertanyaanku
dengan senyumnya.
“Kalau Ayah membelikan apa yang
kamu minta, bentar Ayah hanya menontonmu juga. Lalu, ayah dicuekin.”
“Hmm”
“Ayah temani main, mau?”
“Yeee… mau..mau… tapi Ayah, sebentar
sore izinkan Danang ke rumah Dito ya…”
“Siip.. “
Tidak ada komentar:
Posting Komentar