Rabu, 20 Mei 2015

AKU, AYAH DAN GADGET


Aku masih duduk di atas gundukan pasir yang tersimpan di halaman rumah. Menatap sendu pada langit , dan mengingat-ngingat teman bermain yang dahulu menemani.

“ Ayah dulu, jika siang begini, berlari ke lapangan . Kadang kala mengejar teman yang sibuk bermain sepeda, sementara layangan hendak diterbangkan di atasnya”

Ayah, suatu kali berbicara , masa kecil yang lucu dan selalu terkenang. Saat tetangganya menangis karena kue tanah yang dibuatnya bersama anak perempuan lain di kata rasanya tak enak oleh si anak lelaki yang berperan sebagai pencicip makanan.

“Ayah, apakah aku juga boleh meminta sesuatu?”

“Apa itu nak?”

“Teman-temanku memiliki Ipad atau tidak mereka memakai hape , Ayah. Aku juga mau seperti Ipad Nandar, atau Ayah beli hape baru yang lebih canggih seperti hape ayahnya Dito. Jika bermain bersama mereka , saya hanya menontonnya memainkan game. Tidak seru.”

Komplain pada ayah. Yah, itulah yang aku lakukan. Permainan kami tak seseru dulu, teman-teman sibuk dengan teknologi yang dipegangnya.

Ayah hanya menjawab pertanyaanku dengan senyumnya.

“Kalau Ayah membelikan apa yang kamu minta, bentar Ayah hanya menontonmu juga. Lalu, ayah dicuekin.”

“Hmm”

“Ayah temani main, mau?”

“Yeee… mau..mau… tapi Ayah, sebentar sore izinkan Danang ke rumah Dito ya…”

“Siip.. “

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amanah yang Kedua

Lama tak menjumpaimu blog. Belakangan aku sibuk dengan tugas utamaku sebagai ibu dua anak. Tugasku kini bertambah, seiring dengan umurk...