Hujan,
Kemarin ia membasahi tanah tempatku berpijak
Menempatkan titik-titik sejuknya dalam perangai sederhana seorang insan
Membuatku menangkap kesan dalam diam
Hujan,
Kemarin aku menemukan kedamaian
Menatap sepintas pada keadaan
Lalu, berpaling menatap awan tempatmu berkawan
Hujan,
Aku merindui masa
Aku merindui keadaan
Merindui perangai itu
Hujan,
Ah, aku kemudian memalingkan pikiran dari keadaanku sekarang
Memahami harapan-harapan yang aku tanam sendiri
Menunggui yang benar akan datang bersama, seraya menikmatimu
Hujan,
Bisakah ia paham?
Apakah tak apa menaruh harap?
Apakah ?
Hujan,
Tanyaku sungguh menggunung, terlalu banyak bumbu prasangka
Kini, aku memasrahkan jawaban itu kepada Pencipta kita
Menaruh harap dan do'a yang sama
Hujan,
Dalam senandungku yang singkat
Seraya menikmatimu sendirian
Menyeruput teh hangat perlahan-lahan
Hujan,
Kelak jika perangai itu bersamaiku
Aku akan mengajaknya bersama
Meresapi saat hangat ketika kau membahasahi tanah tempatku berpijak
Mengenang saat aku menaruh perhatian padanya dahulu
Maros, 16 Oktober 2014
Kamis, 16 Oktober 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Amanah yang Kedua
Lama tak menjumpaimu blog. Belakangan aku sibuk dengan tugas utamaku sebagai ibu dua anak. Tugasku kini bertambah, seiring dengan umurk...
-
Bismillah, Kali ini ikut challenge dari Blogger Perempuan, selama 30 hari menulis blog sesuai dengan topik yang sudah ditetapkan. ...
-
Bismillah, Tema hari keenam adalah menceritakan lima fakta tentang diri sendiri... Mmm, baiklah akan saya coba ceritakan ~_~ - Moo...
-
Merenung tertunduk pada jalannya hati Tak tahu arah membawanya berlari Riuh, sorak sorai tak peduli Berbalik arah tak mungkin lagi ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar