Kamis, 16 Oktober 2014

Hujan Memaknaimu

Hujan,
Kemarin ia membasahi tanah tempatku berpijak
Menempatkan titik-titik sejuknya dalam perangai sederhana seorang insan
Membuatku menangkap kesan dalam diam

Hujan,
Kemarin aku menemukan kedamaian
Menatap sepintas pada keadaan
Lalu, berpaling menatap awan tempatmu berkawan

Hujan,
Aku merindui masa
Aku merindui keadaan
Merindui perangai itu

Hujan,
Ah, aku kemudian memalingkan pikiran dari keadaanku sekarang
Memahami harapan-harapan yang aku tanam sendiri
Menunggui yang benar akan datang bersama, seraya menikmatimu

Hujan,
Bisakah ia paham?
Apakah tak apa menaruh harap?
Apakah ?

Hujan,
Tanyaku sungguh menggunung, terlalu banyak bumbu prasangka
Kini, aku memasrahkan jawaban itu kepada Pencipta kita
Menaruh harap dan do'a yang sama

Hujan,
Dalam senandungku yang singkat
Seraya menikmatimu sendirian
Menyeruput teh hangat perlahan-lahan

Hujan,
Kelak jika perangai itu bersamaiku
Aku akan mengajaknya bersama
Meresapi saat hangat ketika kau membahasahi tanah tempatku berpijak
Mengenang saat aku menaruh perhatian padanya dahulu


Maros, 16 Oktober 2014                                                        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Amanah yang Kedua

Lama tak menjumpaimu blog. Belakangan aku sibuk dengan tugas utamaku sebagai ibu dua anak. Tugasku kini bertambah, seiring dengan umurk...